Senin, 17 Februari 2014

BELAJAR DARI SANG SURYA


Di sebuah kota tinggallah dua orang bijak yang sudah hidup bersama selama 30 tahun. Selama itu mereka belum pernah sekalipun bertengkar. Suatu hari seorang dari mereka berkata, ''Tidakkah kau berpikir bahwa inilah saatnya kita bertengkar, paling tidak sekali saja?''
Kawannya menyahut, ''Bagus kalau begitu! Mari kita mulai. Apa yang harus kita pertengkarkan?'' Orang bijak pertama menjawab, ''Bagaimana kalau sepotong roti ini?''
''Baiklah, marilah kita bertengkar karena roti ini. Tapi, bagaimana kita melakukannya?'' tanya orang bijak kedua. Orang bijak pertama lalu berkata, ''Roti ini punyaku. Ini milikku semua.'' Orang bijak kedua menjawab, ''Kalau begitu, ambil saja.''
 
Para pembaca yang budiman, alangkah damainya dunia ini kalau kita semua berperilaku seperti dua orang bijak tersebut. Coba Anda renungkan, bukankah pertengkaran, perselisihan, dan peperangan yang terjadi di dunia ini bersumber dari keinginan kita untuk meminta sesuatu dari orang lain?
Kita suka meminta, tapi sayangnya kita tak suka memberi. Di rumah kita meminta perhatian pasangan kita, meminta anak-anak memahami kita, meminta pembantu melayani kita. Di tempat kerja, kita meminta bantuan bawahan, meminta pengertian rekan sejawat, dan meminta gaji yang tinggi pada atasan. Di masyarakat, mereka yang mengaku sebagai pemimpin selalu meminta pengertian dan kesabaran masyarakat, meminta masyarakat hidup sederhana dan mengencangkan ikat pinggang.
Bahasa kita sehari-hari adalah ''bahasa'' meminta. Mengapa kita suka meminta tetapi sulit memberi? Ada logika yang sepintas lalu masuk akal. Logika tersebut mengatakan, ''Dengan meminta milik Anda akan bertambah, sebaliknya dengan memberi milik Anda akan berkurang.'' Pikiran semacam ini menimbulkan ketamakan dan perasaan takut untuk berbagi. Padahal hukum alam menyatakan yang sebaliknya. Justru dengan banyak memberi, kita akan banyak pula menerima. Coba perhatikan orang yang disenangi dalam pergaulan. Merekalah orang yang suka memberi. Sebaliknya orang-orang yang dibenci adalah orang yang pelit dan tak pernah memberi.
Keinginan untuk memberi tak ada kaitannya dengan banyaknya harta yang kita miliki. Ada orang yang kaya raya tapi sulit sekali memberi. Mereka selalu mengatakan, ''Kalau banyak memberi, kapan saya bisa kaya seperti ini?'' Mereka tak mau memberi karena takut miskin. Seolah-olah dengan memberi mereka akan terkuras habis. Mereka sesungguhnya orang yang benar-benar miskin. Karena bukankah ketakutan akan kemiskinan merupakan kemiskinan itu sendiri?
Sebaliknya ada orang yang sederhana tetapi senantiasa mau berbagi dengan orang lain. Mereka inilah orang-orang yang kaya. Yang menjadikan kita kaya sebenarnya bukanlah seberapa banyak yang kita miliki, tetapi seberapa banyak yang kita berikan kepada orang lain.
Sumber kekayaan yang sejati sebenarnya terletak di dalam diri kita sendiri. Sayangnya, banyak orang tak sadar. Mereka sibuk mengumpulkan permata dan berlian, lupa bahwa permata yang ''asli'' sebenarnya ada di
dalam diri kita sendiri.
Namun, hal itu tak terjadi begitu saja. Ibarat menggali permata yang ada di dalam bumi, Anda juga harus melakukan penggalian ke dalam diri kita. Nah, begitu Anda melakukan perjalanan ke dalam, Anda akan mulai merasakan efeknya.
Mula-mula, beberapa masalah fisik yang berlarut-larut akan terhapuskan, kemudian masalah-masalah emosi yang pelik akan terselesaikan. Teruskan menggali, Anda akan merasakan hidup yang bermanfaat, dan akhirnya akan timbul suatu kesadaran bahwa kita semua adalah satu dan tak bisa dipisah-pisahkan.
Untuk bisa menggali, Anda perlu menemukan kuncinya. Tanpa kunci ini perjalanan Anda akan sia-sia belaka. Anda ingin tahu kuncinya? Jawabnya adalah: dengan memberi kepada orang lain!
Jangan salah, memberi tak selalu harus berkaitan dengan materi dan uang. Kahlil Gibran mengatakan, ''Bila engkau memberi dari hartamu, tiada banyaklah pemberian itu. Bila engkau memberi dari dirimu itulah pemberian yang penuh arti.
'' Ada banyak sekali kesempatan bagi kita untuk memberi. Anda bisa memberikan perhatian, pengertian, waktu, energi, pemikiran, pujian, dan ucapan terima kasih. Anda bisa memberikan jalan bagi pengendara mobil lain di jalan raya. Anda juga bisa sekedar memberikan senyuman. Hal-hal yang sederhana ini dapat berarti banyak bagi orang lain.
Orang yang enggan memberi adalah mereka yang tak pernah belajar dari kehidupan itu sendiri. Padahal esensi kehidupan adalah memberi. Tuhan sebagai sumber kehidupan adalah Sang Maha Pemberi. Lihatlah, betapa Tuhan telah memberikan segalanya tanpa pilih kasih, tak peduli kita baik ataupun jahat. Inilah unconditional love, sebuah cinta tanpa syarat.
Seorang ibu juga adalah pemberi yang tulus, yang telah memberikan seluruh hidupnya untuk anak-anak yang dicintainya. Sebuah lagu menggambarkan hal ini dengan sangat indah, ''Kasih ibu kepada beta/Tak terhingga sepanjang masa/Hanya memberi tak harap kembali/Bagai sang surya menyinari dunia.''

Sumber: Belajar dari Sang Surya oleh Arvan Pradiansyah, Penulis Buku You
Are A Leader! Dosen FISIP UI dan Pengamat Manajemen SDM

PENGERTIAN DAN EMPATI

Seorang ahli pendidikan bertanya pada tiga orang ibu yang ditunjuk dari
para peserta sebuah pelatihan.

Ahli pendidikan (AP) : "Misalkan suatu pagi Anda sedang menyiapkan roti
bakar untuk sarapan suami Anda, tiba-tiba telepon berdering, anak Anda
menangis, dan roti bakar jadi hangus. Lalu suami Anda berkomentar : 'Kapan
kamu akan belajar memanggang roti tanpa ,menghanguskannya?' Kira-kira,
bagaimana reaksi Anda?"

Ibu 1 : "Langsung saya lemparkan roti itu ke mukanya!"
Ibu 2 : "Saya akan katakan padanya, 'Bangun dan bakar sendiri rotinya!"
Ibu 3 : "Saya rasa saya akan menangis."

AP : " Lalu bagaimana perasaan Anda terhadap suami Anda?"
Semua : "Marah, benci, dan merasa dianiaya."

AP : "Mudahkah bagi Anda untuk menyiapkan roti bakar lagi pagi itu?"
Semua : "Tentu saja tidak."

AP : "Dan jika suami Anda pergi bekerja, akan mudahkah bagi Anda untuk
membereskan rumah dan belanja kebutuhan sehari-hari dengan lapang dada?"

Ibu 1 : "Tidak. Saya akan merasa sumpek sekali sepanjang hari."
Ibu 2 : "Saya tidak akan membeli apapun untuk keperluan rumah hari itu."

AP : "Katakanlah bahwa roti itu memang hangus. Tetapi suami Anda mengatakan
kepada Anda, 'Tampaknya pagi ini kamu lelah ya... Telepon berdering, anak
menangis, dan sekarang roti hangus' Kira-kira apa reaksi Anda?"

Ibu 1 : "Saya tidak percaya bahwa yang berbicara itu adalah suami saya."
Ibu 2 : "Saya akan merasa bahagia."
Ibu 3 :"Saya akan merasa senang, dan saya fikir,saya akan memeluknya"

AP : "Mengapa Anda gembira? Bukankah anak tetap menangis, telepon
berdering, dan roti sudah hangus..?"
Semua : "Saya tidak akan peduli dengan semua itu."

AP : "Lalu apa yang berbeda kali ini?"
Ibu 1 : "Saya merasa suami saya baik sekali, karena tidak menyalahkan saya,
melainkan memahami perasaan saya. Dia berpihak pada saya, bukan memusuhi
saya."

AP : "Jika suami Anda pergi bekerja, akan mudahkah bagi Anda untuk
melakukan tugas-tugas rumah tangga?"

Ibu 2 : "Saya akan melaksanakan tugas-tugas saya dengan senang hati."

AP : "Sekarang, mari kita bicara tentang suami tipe ketiga. Setelah roti
itu hangus, ia memandang istrinya sambil mengatakan, 'Nih, saya ajari kamu
cara membakar roti!'"

Semua : "Tidak. Suami macam itu lebih buruk lagi dari yang pertama, sebab
ia menganggap saya dungu."

Saat itu, ahli pendidikan itu mengatakan :
"Bagaimana kalau apa yang suami Anda lakukan kepada Anda itu, Anda
lakukan kepada anak Anda?"

Ibu 1 : "Sekarang saya mengerti tujuan Anda membuka dialog ini. Saya
memang selalu mengkritik anak saya, tanpa saya sadari. Saya selalu mengatakan,
'Kamu sudah besar, sudah harus tahu bahwa apa yang kamu lakukan itu
salah.''Saya sekarang tahu mengapa ia marah dengan kata- kata saya."

Ibu 2 : "Saya juga selalu mengatakan, 'Biar saya tunjukkan padamu cara
melakukan ini dan itu.' Dan sering kali anak saya marah saat mendengarnya."

Ibu 3 : "Saya sering mengkritik puteri saya hingga hal itu menjadi hal yang
biasa bagi saya. Dan saya sering mengulang-ulang kalimat yang dulu
diucapkan ibu saya kepada saya, jika memarahi saya, saat saya kecil. Dulu,
saya juga sangat tidak suka mendengar ibu mengatakannya."

AP : "Kalau begitu, mari kita cari tahu yang mungkin kita pelajari dari
kasus roti hangus ini. Apa yang membantu mengubah perasaan Anda dari benci
menjadi senang terhadap suami Anda?"

Ibu 1 : "Saya yakin sebabnya adalah karena suami tidak menyalahkan
saya, tetapi dia memahami perasaan saya."
Ibu 2 : "Tanpa mencela saya."
Ibu 3 : "Tanpa mendikte saya."

Setelah sampai pada yang dituju, ahli pendidikan itu mengatakan, "Sekarang
Anda semua mengerti bahwa apa yang Anda inginkan dari suami Anda, itulah
yang diinginkan pula oleh anak-anak kita dari kita : pengertian dan empati." 


Sumber: Email yang tercecer.

BERANI MENCOBA

Alkisah,  seorang pembuat jam tangan berkata kepada jam yang sedang dibuatnya. 

"Hai  jam,  apakah  kamu  sanggup untuk berdetak paling tidak 31,104,000 kali selama
setahun?"
"Ha?," kata jam terperanjat, "Mana sanggup saya? "

"Bagaimana  kalau  86,400  kali  dalam sehari?"
"Delapan puluh ribu empat ratus  kali?  Dengan jarum yang ramping-ramping seperti
ini?" jawab  jam  penuh  keraguan.

"Bagaimana  kalau 3,600 kali dalam satu jam?"
"Dalam satu jam harus berdetak  3,600  kali?  Banyak sekali itu" tetap saja jam
ragu-ragu dengan  kemampuan  dirinya.

Tukang  jam  itu  dengan  penuh kesabaran kemudian bicara kepada si jam.
"Kalau  begitu,  sanggupkah  kamu berdetak satu kali setiap detik?"
"Naaaa, kalau begitu, aku sanggup!" kata jam dengan penuh antusias.

Maka,  setelah  selesai  dibuat,  jam itu berdetak satu kali setiap detik.

Tanpa  terasa,  detik  demi detik terus berlalu dan jam itu sungguh luar  biasa
karena  ternyata  selama satu tahun penuh dia telah berdetak  tanpa  henti. Dan itu
berarti ia telah berdetak sebanyak 31,104,000 kali.

Renungan
Ada  kalanya  kita  ragu-ragu  dengan  segala  tugas pekerjaan yang begitu terasa
berat.  Namun  sebenarnya  kalau kita sudah menjalankannya, kita ternyata  mampu.
Bahkan  yang  semula kita anggap impossible untuk dilakukan  sekalipun. Jangan  
berkata   "tidak"   sebelum   Anda   pernah mencobanya.


Kata  Bijak Hari   Ini.

Ada  yang  mengukur  hidup  mereka  dari  hari dan tahun. Yang lain dengan denyut
jantung, gairah, dan air mata. Tetapi ukuran sejati dibawa mentari  adalah apa yang
telah engkau lakukan dalam hidup ini untuk
orang  lain. (Confucius)

Sumber: Email yang tercecer.

Jumat, 27 Desember 2013

PERAK LAJU


          “Selamat pagi!” Teriak Ramlan. “Good morning!” Teriaknya sekali lagi. “Sabahul khaer!!!!” Hening. Tidak ada jawaban. Ramlan berdiri tegak di atas ranjang tingkatnya hingga kepalanya nyaris menyentuh plafon Ibnu Khaldun, menatap ke bawah. Sepi. Asrama kosong melompong. Matanya dikucek-kucek untuk meyakinkan dirinya sendiri terhadap apa yang ditangkap matanya. Kemana kawan-kawanku? “My friends dissapear” layaknya Macaulay Culkin di home alone ia berbicara sendiri sambil menggeleng-geleng. Lalu menutup mukanya dengan kedua tangan. Setengah sadar ia bergegas melompat dari ranjangnya.
            Ia menyaksikan kasur-kasur yang telah digulung, diikat menggunakan ala tali temali dalam pelajaran Pramuka dengan simpul-simpul yang sempurna. Lemari-lemari digerendel menggunakan rantai dan digembok rapat khas super maximum security system. Lantai kamar telah bersih sebersih-bersihnya, licin selicin-licinnya. Ia  menengok keluar. Di sana ia mendapati tali jemuran yang terentang berjajar-jajar tidak seperti biasanya. Setiap pagi hingga pagi berikutnya jemuran yang berjejer disesaki pakaian, handuk, selimut, seprei, dan beberapa pakaian dalam usang dijepit atau diikat supaya tidak diterbangkan angin melambai-lambai memanggil-manggil sesak dinanti beberapa jemuran daftar tunggu. Dan kini jemuran itu kosong tanpa sehelai jemuran walau sebesar sapu tanganpun.  Ia tercekat. Mencubit tubuhnya sendiri. Maling maniak darimana yang telah menyikat seluruh jemuran itu?  Ini bukanlah mimpi. Pondok yang biasanya ramai dengan santri-santri super sibuk hilir mudik lalu lalang berkopiah, bergamis, berseragam sekolah, berseragam pramuka, berkostum olah raga, berpakaian karate, berhanduk bertelanjang dada kini sepi tidak ada kehidupan. Hanya dia seorang diri.
            Ramlan kembali masuk ke dalam kamar, mengambil mug yang berada di atas lemarinya, membuka tutupnya kemudian mencelupkan ujung jari tengah dan telunjuknya ke dalam mug berisi air sisa minumnya tadi malam. Ia lalu mengusap kedua ujung matanya dengan dua jari tersebut. Cuci muka ala om Pasikom, praktis dan hemat air. Kebiasaan itu pula yang sering dipraktekkannya ketika hendak berangkat ke kelas di pagi hari. Tapi kali ini ia mencuci mukanya sekedar berusaha meyakinkan dirinya bahwa ia tidaklah sedang bermimpi pagi ini. Saat ini ia berada di dunia luas dan nyata seorang diri.
            Bagaimana mungkin ini bisa terjadi. Pergi kemana manusia sebanyak itu? Apa mereka sedang usil mengajak diriku bermain petak umpet? Tapi kenapa kasur-kasur digulung dan lemari digerendel? Apakah mereka saat ini sedang bersembunyi didalam gulungan kasur dan sebagaian lainnya saling mengunci di dalam lemari yang pengap? Ah! Tak habis fikir.
            Suasana pagi hari itu cerah nan lembut. Hembusan angin dengan irama bersimfoni merayap di atas tanah, melayang sepoi-sepoi di udara, menyapu kaca jendela yang kusam, menabrak-nabrak dinding asrama lalu memantulkan dirinya dan kembali lagi berputar dengan indahnya laksana gerombolan perenang olimpiade yang menyentuh ban kolam pada putaran lima puluh meter pertama. Tapi kesunyian ini terasa begitu dekat hingga suara binatang-binatang bersel satu yang biasa melakukan meeting di atas rawa-rawa yang menghampar di kolong asrama nyaris terdengar saling berbantahan melakukan interupsi. Pastilah meeting kali ini begitu sangat penting  WC-WC umum yang berjejer berjumlah dua puluh buah yang berada dekat di samping kiri asrama Ibnu Khaldun meringkuk dingin dengan 19 pintunya dibuka lebar-lebar. Sementara satu WC lagi yang di pintunya bertuliskan WC no. 20 jelas masih seperti biasa tertutup dengan rapatnya. WC misteri itu menyimpan cerita tersendiri yang nanti akan kita ulik pada periode berikutnya. Lantai pelataran sumur yang biasa digunakan sebagai tempat mencuci para santri setelah sholat subuh dan dhuhur kini kering tanpa setetes air pun yang menggenangi. Ruang basah itu nampaknya lama tak dijamah. Dapur yang biasanya menimbulkan suara gemuruh kompor gas tidak menampakkan ada tanda-tanda kegiatan tata boga di dalamnya. Celoteh bibi-bibi centil, kejam, jahat, sangar dan suka menggunjing yang kadang-kadang bernafsu melempari santri dengan piring tembaga tak terdengar. Suara itu menghilang begitu saja bak radio transistor tidak sengaja kesenggol anggota tubuh terpencet tombol off.  Semua pintu-pintu asrama rapat terkunci menggunakan palang kayu yang kedua sisinya dijalin menggunakan pasak persegi tegak simetris saling mengkait.
            Pagi cerah berkemilau. Namun gulana menyerang ke sendi-sendi hati Ramlan yang berdenyut-denyut cepat saling mendahului. Rasa lapar kini membuyarkan segalanya. Dia memeriksa lemarinya meski dia sendiri tahu tidak ada persediaan logistik di dalamnya namun siapa tahu lemari itu kini menjelma menjadi lemari es yang disesaki persediaan makanan seperti lemari-lemari es yang berada di rumah orang kaya setiap permulaan bulan. Tapi itu tidak pernah dan tidak akan pernah terjadi. Lemarinya tetaplah lemari pakaian yang berisi sesak pakaian kotor nan kumal, sarung sholat, celana jeans yang tidak pernah dicuci selama berbulan-bulan, belel, dekil dan blue jeans andalannya itu kini seperti bunglon berganti nama menjadi black jeans. Di dalam lemari berlantai tiga itu juga terselip manis sebuah buku yang berjudul “Bagaimana menembak dengan jitu” sebuah buku petunjuk bermain billiard hadiah ulang tahun sahabat penanya sewaktu SD yang jauh berada di kota Malang. Buku itulah yang setiap saat dan setiap waktu ketika ia sedang berjalan, mandi, belajar, dan menjelang tidur membuat tangan kirinya tiba-tiba saja secara spontan melakukan gerakan mencengkeram dan tangan kanannya mengepal seolah sedang memegang sebuah kyu mengayun ke depan dan ke belakang. Teman-teman yang menjadi sekelompok piket kebersihan dengannya, tidak pernah menyerahkan tugas menyapu kepadanya. Lantai kamar tidak akan pernah bersih karena ia sibuk memainkan gagang sapu menyodok setiap benda yang ditemuinya dengan gagang sapu itu. Ramlan biasanya hanya kebagian tugas persiapan seperti misalnya mengangkat air dari sumur atau tugas finishing meniup-niup lantai supaya cepat kering.
            Pagi yang tenang, pondok yang sunyi, dan perut yang berdendang karena lapar. Tiga kombinasi yang tidak memberi kontribusi damai sama sekali dalam batinnya. Ia harus berbuat sesuatu untuk merubah ketiga kombinasi itu, kreatifitas di otaknya sangat dibutuhkan saat ini.
            “OM AREMA!!!” cerdas. Sangat cerdas, ia memuji-muji otaknya yang kadang-kadang brilian bila tersudut. Om Arema tidak akan kemana-mana. Ia pasti tahu apa yang terjadi dengan pondok yang sunyi saat ini. Om Arema adalah jago masak yang bakal membuat cacing-cacing dalam perutnya menghentikan demo yang tidak pernah mengirim izin melakukan demo kepadanya terlebih dahulu. Om Arema adalah Om tukang banyol yang akan membuatnya jauh dari rasa kesepian. Dan Om Arema adalah makhluk tua pelipur lara yang selalu membuat siapa saja merasa tenang, aman dan nyaman bersamanya.
            Ramlan melompati tiga titian tangga sekaligus. Berkelebat meninggalkan asrama sunyi yang tiba-tiba membuatnya takut dan merinding. Ia bersiul-siul sambil berdendang dengan riangnya mencoba mengalihkan rasa takut yang tiba-tiba menyerangnya dari segenap penjuru.
            Sebenar-benarnya dan sejujur-jujurnya Ramlan sudah mengetahui dengan detail apa yang dialaminya saat ini. Ini adalah resiko yang harus ditanggungnya sebagai seorang  syahid kecil menuntut ilmu nun jauh dari tanah kelahirannya. Tanah Manado. Entah mengapa ia memilih atau mungkin juga dipilihkan orang tuanya jalan meninggalkan kampung halaman terpisah dari lingkungan tak terbayangkan indahnya masa kecil menuju suatu tempat berkumpulnya putra-putra tunas bangsa merengkuh masa pedih, getir, lirih namun manis. Ia selalu menyebut dirinya terkurung dalam penjara suci demi satu tujuan menjadi seorang ulama intelek, intelek ulama. Tidak neko-neko.
            Pulang ke Manado untuk libur selama seminggu adalah pilihan bodoh, tidak efektif dan efisien, baik dari segi waktu dan uang. Perjalanan menggunakan kapal laut yang jadwalnya tidak setiap hari ada, dan berada di kapal selama dua hari dua malam pulang pergi pastilah membuatnya jenuh dan bosan. Sampai di Manado buang air kecil lantas pulang kembali ke Pondok akan membuat orang tuanya mendelik memegang saku menerawang berapa rupiah yang harus dihabiskan untuk pulang sekedar pipis. Sementara tetap berada di pondok dengan segala kesunyian akan menyiksanya lahir bathin. Dua pilihan ibarat makan buah simalakama. Ia telah berusaha membujuk beberapa sahabat lainnya yang juga berasal dari seberang pulau seperti Ternate, Ambon, Jayapura, Malang, Jakarta untuk tinggal bersamanya di pondok selama musim liburan tiba. Namun mereka yang dibujuk meminta jaminan keamanan, ketersediaan pangan, dan lain-lain sebagainya. Dan bagi Ramlan, itu sangatlah berat di ongkos. Akhirnya mereka yang dibujuk memilih pulang berlibur ke rumah saudaranya yang ada di kota. Pilihan yang cukup realistis.
            Namun ketika ia melewati kelompok sumur wustha yang lengang, bulu kuduknya semakin merinding. “Masa bodoh dengan rasa takut” hiburnya dalam hati. Ia mencoba membunuh perasaan itu sekuat tenaga, namun bayangan-bayangan ketakutan semakin mengintai. Ia melihat sesuatu, hanya sesuatu, sesuatu yang tidak dapat dipercaya oleh mata telanjang. Tulisan balok yang tertulis dengan huruf tebal berwarna merah di dinding kelompok sumur itu, bernada memperingatkan dan sedikit mengancam,
“BERHATI-HATILAH!!!  PERAK LAJU TELAH KEMBALI”
“Perak Laju? Apa itu Perak Laju? Kapan tulisan itu dibuat? Siapa yang membuat tulisan besar berwarna merah itu?” Ah, masa bodoh sekali lagi. Ramlan kembali berusaha menenangkan batinnya yang mulai didera rasa takut akut.
            Ia berjalan cepat. Secepat angin yang berhembus di pagi sunyi itu. Tujuannya untuk menemui Om Arema semakin bulat. Om itulah harapan satu-satunya yang bisa mengatasi rasa sepi, rasa lapar dan rasa takut yang dialaminya saat ini. Dalam sekejap Ramlan sudah berada di halaman depan pondok. Pintu pagar pondok yang tergembok dengan rapat setinggi dua meter dilompatinya begitu saja. Selanjutnya ia berlari sekencang-kencangnya menuju warung Om Arema.
            Sebuah rumah yang garasinya kira-kira bisa menampung dua buah mobil disulap menjadi warung makan. Sebuah warung yang didedikasikan bagi para mahasiswa yang banyak indekos di daerah itu. Santri-santri yang mondok di pondok juga sering menjadikan warung itu sebagai tempat nongkrong di sore hari, pada jam-jam olahraga selepas shalat ashar hingga menjelang shalat Maghrib. Warung itu semakin ramai dikunjungi para santri setiap malam libur yaitu malam Jumat. Santri-santri biasanya senang menonton televisi di ruang tengah rumah Om Arema, atau bercengkrama di bawah pohon jambu yang rindang di halaman belakang. Jam-jam itu memaksa Om Arema dan istrinya sibuk melayani keinginan para Santri untuk dibuatkan teh, susu soda, kopi, mie instan atau nasi goreng. Namun di musim libur seperti ini warung itu sepi pengunjung. Om Arema hanya membuka setengah pintu warungnya. Ia memilih menikmati masa-masa libur seperti ini dengan duduk santai di halaman depan rumahnya sambil menghisap cerutu kesayangannya.
            Pohon jambu yang ada di halaman depan rumahnya sudah mulai berbunga. Pucuk-pucuk bunga yang berbentuk menyerupai jarum berwarna kuning kehijau-hijauan berguguran mengotori pekarangan rumah teduh itu. Beberapa pot bunga berwarna hitam setinggi seperempat meter berjejer di beranda layaknya penjemput tamu pengantin mempersilahkan para tamu undangan masuk. Pot-pot itu ditanami berbagai jenis tanaman anggrek, lidah buaya dan kumis kucing. Pot-pot yang juga bisa berubah fungsi menjadi asbak itu sudah mulai dirambati lumut karena hawa pekarangan yang lembab dan jarang diterpa sinar matahari langsung. Namun tanaman yang tumbuh di dalamnya tetap tegar dan segar karena putri bungsu Om, telaten menyiraminya setiap pagi.
            Ketika Om Arema hendak berdiri dari duduknya selepas menatapi lidah buaya yang memeletkan lidahnya, dan kumis kucing yang dipilin-pilin oleh angin, tiba-tiba seorang anak berlari terengah-engah menuju ke arahnya.
            “Ho Ho Ho… Anak Manado! Angin apa yang menerbangkanmu ke sini?” Sambut Om Arema hangat. Om yang hangat itu kemudian mengambil sebuah kursi lalu meletakkan di samping kursinya. Menepuk-nepuk joknya lalu mempersilahkan Ramlan duduk.
            Muka Ramlan pucat. Nafasnya berhembus berat, jakunnya turun naik. Ia berjongkok memegangi kedua lututnya. Keringat membanjiri sekujur tubuhnya. “Om, Aku baru saja mengalahkan Carl Lewis.”
            “Ha ha ha, apa yang menyebabkanmu bisa berlari mendahului Carl Lewis? Bu!! Air minum…..!” Teriak Om ke dalam rumah. Sejenak kemudian Tante Arema tergopoh-gopoh keluar dengan air minum dalam gelas di tangannya.
            “Minum dulu!”
            “Thanks Om.” Ramlan menyambar gelas itu lalu meneguk isinya. Sebentar kemudian ia menghembuskan nafasnya keras-keras. Lega, plong.
            “Tidak kemana-mana liburan ini?” tanya Om mengambil kembali gelas yang telah kosong dari tangan Ramlan.
            “Tidak Om, Aku tidak punya keluarga di kota.”
            “Tidak ikut pulang ke daerah bersama kawan-kawan Kamu yang lain?”
            “Tidak punya ongkos Om.”
            “Poor Boy! Lantas Kamu liburan di pondok sendirian?”
            “Ya Om. Sendirian.”
            “Kamu berani tidur sendirian di dalam pondok seluas itu?
            “Memangnya kenapa Om? Aku sih berani saja.”
            “Ah, tidak apa-apa. Sebab Kamu berlari seperti di kejar setan baru saja.”
            “Om, sebenarnya Aku berani saja. Semalam aku tidur sendiri. Sampai tadi pagi aku baru merasa sesuatu yang aneh, dan tiba-tiba bulu kudukku berdiri dengan sendirinya. Dan baru saja Aku melihat sesuatu. Sebuah tulisan merah besar-besar di dinding sumur yang bersebelahan dengan dapur.”
            “Apa bunyi tulisannya?”
            “Berhati-hatilah! Perak Laju telah kembali.”
            “APA? “ Mata om Arema membulat seraya berdiri dari kursinya, menatap Ramlan lekat-lekat. “Ulangi sekali lagi!”
            “Perak Laju telah kembali!!!” Sahut Ramlan. Kali ini lebih keras dari sebelumnya. Ia seperti berbicara dengan orang tuli.
            “Perak Laju? Mata Kamu tidak salah lihat? Ma…………” Teriak Om sekali lagi ke dalam rumah. Tante Arema datang berlari-lari kecil memenuhi panggilan itu.
            “Ada apa Pa?”
            “Mama masih ingat soal Perak Laju?”
            “Apa?” Seketika muka Tante itu seputih kapas. Pias. Darahnya tersumbat dan berhenti mengalir ke wajahnya. Bibirnya bergetar hendak mengucapkan sesuatu. Tapi seketika tubuhnya limbung. Refleks Om dan Ramlan berdiri memegangi tubuhnya.
            “Cepat masuk ke dalam ambil air!” perintah Om kepada Ramlan.
            Secepat kilat Ramlan berlari ke dalam rumah. Karma hendak terjadi. Beberapa detik yang lalu dirinya yang diberi minum oleh Tante Arema. Namun siapa sangka saat ini justru Ia yang harus mengambil air minum untuk Tante itu. Subhanallah.
            Tante itu kini sudah tenang. Kata “Perak Laju” baru saja mengguncang jiwanya. Om dan Ramlan kini tidak berani menyebut lagi kata itu. Mereka sepakat membahasnya berdua saja tanpa melibatkan orang lain.
            “Kamu harus berjanji untuk tidak menyebutkan kata itu lagi!”
            “Iya Om. Tapi apa itu Perak Laju?”
            “Diam!!” Om Arema yang berkarakter hangat, penyayang, kini tiba-tiba berubah menjadi pembentak. Kata Perak Laju yang sudah membuat istrinya tersayang nyaris tercerabut membuatnya tidak mampu mengontrol emosinya.
            “Maafkan Pak Tua ini, Nak.” Tiba-tiba om Arema sudah kembali ke alam sadarnya.
Ramlan yang semakin tidak faham dengan keadaan ini hanya mampu bengong lalu mengangguk cepat-cepat. “Kalau begitu Aku permisi dulu Om.”
“Hai Mau kemana Kamu Nak?”
“Kembali ke pondok.”
“Jangan. Sebaiknya Kamu jangan ke sana dulu.”
“Memangnya kenapa Om?”
“Sudah, jangan ke sana dulu.”
“Lalu Aku harus kemana Om? Aku tidak ada tempat lagi selain pondok itu untuk saat ini.”
“Tunggu sampai masa libur selesai. Untuk sementara Kamu tidur di tempat Om dulu. Sekarang Kamu masuk ke dalam, makan dan nonton televisi, dan yang paling penting, lupakan ‘Pe… eh, lupakan apa yang tertulis di tempat cuci-cuci itu. Faham?”
“Faham Om.”

Tante Arema kritis, Ia dilarikan ke rumah sakit untuk dirawat inap karena penyakit jantungnya kembali kambuh. Tidak ada yang patut dipersalahkan dalam peristiwa ini. Tidak Ramlan, tidak pula Om Arema. Om Arema beserta putri bungsunya dengan setia menungguinya di rumah sakit. Ramlan yang belum mengerti apa sebenarnya yang membuat Tante itu tiba-tiba pingsan mendengar kata “Perak Laju” dan mengapa kini ia tidak diperbolehkan kembali ke pondok hanya bisa duduk menerawang sepanjang malam, sepanjang siang, sepanjang sore menunggu apa yang akan terjadi.
Pucuk-pucuk bunga buah jambu yang berguguran dan bertebaran di halaman depan, satu dua pucuk jatuh mendarat ke rambut seorang anak yang sedang duduk merenung di bawah pohon jambu itu. Semalam ia tidak bisa memejamkan matanya barang semenit, bayang-bayang tulisan berwarna merah yang ditulis tebal-tebal di dinding kelompok sumur itu seperti menggantung di depan matanya. Perak Laju, dua kata yang telah menyusahkan keluarga sakinah dan mawaddah ini. Ramlan merasa sangat bersalah. Ia mengutuki dirinya sendiri dan mengutuki apa yang telah dilihatnya. Yang jelas sampai saat ini dirinya belum mengerti apa itu perak laju, apakah merupakan sebuah nama yang menunjukkan nama seseorang, sebuah istilah, nama tempat, nama alat transportasi, atau apapun? Ia berdiri mengibaskan rambutnya yang diterpa pucuk bunga buah jambu. Anak remaja tanggung bergelar santri itu semakin larut dalam kebingungan tak terkira.
Pagi itu Om datang dari rumah sakit setelah menunggui istrinya. Wajahnya semakin mengguratkan rasa lelah. Mungkin semalam ia juga tidak bisa tidur menemani istrinya dan memikirkan soal Perak Laju.
“Sini Ramlan.” Teriaknya ke Ramlan, dan Ramlan datang menghampiri.
“Kalau mau makan ambil sendiri ya?”
“Iya Om”
“Nanti siang Kita akan ke Pondok. Kamu tunjukkan tulisan itu. Dan Kamu jangan bercerita kepada siapapun, karena Kita akan masuk ke dalam pondok dengan cara yang tidak semestinya. Saya akan menunjukkan kepada kamu sebuah shortcut menuju pondok itu dan kamu harus berjanji untuk tidak menggunakan lagi shorcut itu. Kecuali untuk saat ini.”
“Iya Om, Saya berjanji.”
Mereka berjalan menyusuri tembok tebal di belakang pondok yang memagarinya  kokoh dan berpagar duri di atasnya. Pecahan beling tertanam di dalam semen yang merengkuh. Om menepuk-nepuk setiap dinding yang dilaluinya dengan sebuah batu kecil yang ada digenggamannya. Ia terhenti pada sebuah ketukan dinding yang kopong. Dengan kedua tangannya ia mencungkil sebuah engsel kecil lalu menariknya pelan. Tiba-tiba dinding itu bergerak ke depan lalu sebuah tenaga hidrolik menariknya ke bawah dan tenggelam ke dalam bumi. Dinding itu terbuka yang hanya mampu dilewati satu orang dengan cara merayap. “Hole in the wall”. Om bergumam pelan.
“Waw…..” Ramlan berdecak. “Dari mana Om tahu jalan ini?”
“Sudah. Kamu diam saja. Ayo kamu masuk duluan.”
Ketika masuk, Ramlan berusaha mengingat-ingat ada dimana. Dan ternyata ia tepat berada di depan WC no 20 yang berada di samping kiri asrama Ibnu Khaldun III. Sebuah gorong-gorong yang tertutup semen tepat berada di bawah kakinya. Kini Ia mengerti kalau tembok yang bergerak secara hidrolik ke bawah tadi bisa berfungsi sebagai pintu air gorong-gorong yang dapat menyumbat aliran air kotor yang keluar menuju drainase.
“Coba Kamu tunjukkan dimana Kamu menemukan tulisan merah itu!”
“Ikut sini Om.” Ramlan mengarahkan langkah kakinya menuju sumur Wustha setelah terlebih dahulu melompati beberapa genangan air kotor akibat rawa-rawa yang menggenang di bawah asrama Ibnu Khaldun. Beberapa bongkahan batu yang nampaknya sengaja dipasang menjadi pijakan kaki-kaki dua lelaki itu. Setelah loncat sana sini, sampailah keduanya di titian jembatan bambu yang menjadi penghubung asrama Ibnu Khaldun dengan jalan utama menuju sumur. Sejenak Ramlan melirik ke atas ke arah pintu asrama Ibnu Khaldun II dimana semalam Ia tidur seorang diri. Dia yakin kalau sebelum Ia meninggalkan asrama itu kemarin pagi, pintu asrama dalam keadaan terbuka, tapi kenapa kini sudah dalam keadaan tertutup. Mungkinkah pintu yang terbuat dari kayu itu bisa tertutup sendiri oleh tiupan angin? Ramlan menatap langit. Cerah di sana. Tidak ada tanda-tanda akan terjadi hujan. Hanya angin hujan yang mampu menggerakkan kayu pintu jati itu. Jadi kalau bukan karena angin, siapa gerangan yang telah menutup pintu itu?
Ramlan hanya diam, dia menelan sendiri teka-teki tertutupnya pintu itu. Sementara Om Arema terus berjalan tertatih-tatih meniti jembatan bambu menuju sumur wustha yang mereka tuju. Ramlan terus mengikutinya dari belakang. Degup jantung Ramlan semakin cepat, dadanya berdebar-debar, apakah tulisan yang bernada mengancam dan memperingatkan itu jelas-jelas masih tertulis di sana? Dia tidak sanggup melihatnya, tidak kuat mengatur ritme irama jantungnya. Dia biarkan saja Om itu berjalan sesegera mungkin sampai ke area sumur wustha. Sementara dirinya hanya berdiri mematung di tempatnya berdiri.
“Di sana Om! Di dinding sebelah kiri.”
“Tidak ada. Tidak ada tulisan apa-apa.” Seru Om Arema dari kejauhan.
“Tidak ada?” Ramlan bergumam, kemarin pagi jelas-jelas dia melihatnya. “Siapa yang menulis lalu menghapusnya?” Dia berlari menghampiri Om tua itu.
“Wah, sudah terhapus Om.” Ramlan menghela nafas, dirinya justru kini takut dituduh mengabarkan kata dusta. “Sumpah Om! Kemarin Aku melihatnya dengan jelas.”
“Kamu tidak perlu bersumpah segala Nak! Om percaya Kamu tidak mengada-ada.” Om mengelus kepala Ramlan lalu mengajaknya untuk pulang kembali ke rumah.
Akan tetapi, selanjutnya keadaan kembali menjadi semakin menegangkan, Pandangan Ramlan menangkap suatu bayangan berwarna perak berkelabat sangat cepat dan sulit ditangkap pandangan mata normal. Bayangan itu menyerupai tubuh manusia namun seluruh tubuhnya berwarna perak memancarkan sinar yang menyilaukan. Jantung Ramlan seolah nyaris berhenti, dan seketika matanya tertuju ke pintu dapur yang berhadapan dengan kelompok sumur itu, tulisan dengan warna dan bunyi yang sama yang dilihatnya kemarin pagi di dinding sumur  kini berpindah dan tercetak dengan jelas di pintu dapur itu. “BERHATI-HATILAH PERAK LAJU TELAH KEMBALI!!!”
Ramlan memegang erat tangan Om. Lalu kepalanya mengisyaratkan agar Om melihat ke pintu dapur. Kali ini Om Arema pun tidak sanggup berkata apa-apa, bahkan cuping telinganya pun bergerak-gerak, wajahnya menyiratkan ketakutan mendalam. Ia telah menyaksikan dengan mata kepala sendiri tulisan yang mengancam itu.
Om menarik tangan Ramlan agar segera meninggalkan tempat itu.
“Apa ada orang lain selain Kamu di dalam pondok ini?”
“Seluruh santri sedang libur, dan mereka kembali ke daerah masing-masing. Guru-guru, tukang masak, tukang bersih-bersih semuanya pulang ke daerah. Tinggal Aku seorang diri.”
“Sepertinya ada orang selain Kamu. Tapi sekarang, ambil barangmu seperlunya dan Kamu untuk sementara tidur di rumah Om.”

Sesampainya di rumah, om mulai menceritakan perihal perak laju kepada Ramlan yang makin penasaran; 
Mitos “Perak Laju” adalah sebuah cerita yang amat mengerikan pada masanya. Cerita itu mulai berhembus pada masa-masa penjajahan kaum kolonial pada saat perang kemerdekaan. Di kawasan itu dahulu adalah kawasan pemukiman yang mayoritas penduduknya yang utamanya kaum muda memiliki hubungan amat dekat dengan kaum penjajah. Para pemuda direkrut, dilatih, dipersenjatai lalu diberi busana serba perak. Pemuda-pemuda dengan kepandaian berlari selincah kijang itu disebar. Mereka membantai sesamanya kaum pribumi yang coba melawan kebijakan kaum penjajah. Tidak tanggung-tanggung, mereka tidak hanya sekedar membantai para lelaki, mereka juga tidak segan-segan menghabisi wanita dan seluruh keluarga ‘pembangkang’ hingga yang masih bayi sekalipun.
Kelompok “Perak Laju” memiliki cara kerja ‘hit and run’. Dia memangsa buruannya dengan menggorok leher dalam waktu tidak sampai dalam hitungan detik. Dalam sekejap mereka bisa melayang pergi dengan kecepatan yang tidak bisa ditangkap oleh panca indra. Mereka yang direkrut menjadi anggota ‘perak laju’ tidak saling mengenal satu sama lain hal ini sengaja dilakukan oleh kompeni untuk menciptakan kerisauan tersendiri di kawasan itu. Para pemuda satu sama lain saling menuduh, tidak jarang pemuda yang dicurigai meski tidak terbukti dihakimi secara massa lalu dibakar hidup-hidup oleh warga. Kompeni benar-benar mengambil keuntungan berlipat dari semboyan pecah belah kemudian kuasai dengan menerapkan kerisauan kaum pribumi kala itu dengan menciptakan sosok perak laju. Warga pribumi pembangkang yang menghendaki kebebasan dan kemerdekaan dilenyapkan oleh sesamanya yang menjadi anggota perak laju, sementara perak laju saling menghabisi satu sama lain. Benar-benar suatu kebodohan alang-kepalang yang pernah dialami para pemuda masa itu.  
   Sepak terjang perak laju berlangsung selama bertahun-tahun. Korbannya mencapai ribuan orang; lelaki, wanita, dewasa dan anak-anak. Kekacauan serta kerisauan kaum pribumi semakin memudahkan kaum penjajah memancangkan cengkraman kekuasaannya. Perak laju yang bisa berkelebat menghabisi buruannya segesit kijang, secepat angin akhirnya menimbulkan mitos bahwa Perak Laju sebetulnya bukanlah manusia. Perak Laju adalah makhluk gaib yang bersekutu dengan setan melalui kompeni dengan tujuan melenyapkan manusia dari permukaan bumi. Mereka akhirnya dikiaskan datang dari planet lain berkeliaran di muka bumi memangsa manusia dengan cara biadab. Selama bertahun-tahun tidak ada penduduk yang berani keluar malam. Anak-anak kecil sering ditakut-takuti orang tuanya, “Cepat masuk ke dalam rumah, sebentar lagi Perak laju akan tiba.” Kalau sudah demikian, barulah anak-anak itu patuh kepada orang tuanya.
Berbagai cara telah dilakukan kaum pribumi untuk melenyapkan Perak Laju, mereka melakukan upacara-upacara ritual menurut keyakinan masing-masing. Orang-orang yang pandai dalam hal-hal kebatinan, ahli agama saling bekerja sama dengan satu tujuan kedamaian dan keamanan dari rongrongan Perak Laju.
Seiring terusirnya kompeni dari kawasan itu, perlahan-lahan sepak terjang Perak Laju berkurang. Namun beberapa pemuda yang pernah direkrut menjadi anggota Perak Laju masih sering memanfaatkan ketakutan masyarakat beraksi dengan tujuannya sendiri, misalnya mencuri, merampok atau menculik gadis kampung kemudian menghilang.
Setelah Perak Laju benar-benar hilang, trauma penduduk tidak bisa dihilangkan begitu saja. Mendengar nama Perak Laju disebut, tidak jarang tiba-tiba seseorang lantas berlari tunggang langgang, pingsan atau ada juga yang tiba-tiba melompat berusaha mencari tempat persembunyian.
“Begitulah legenda Perak Laju.” Om Arema menyeruput kopi buatannya sendiri dengan sekali seruput lantaran masih panas. Ia kemudian meletakkan cangkir ke atas wadahnya. Sesekali hisapan cerutu dan sebuah hembusan nafas berat yang diiringi asap mengepul dari mulutnya ia menerawang ke langit-langit.
“Orang tua istri Om, tante kamu itu adalah satu-satunya yang bisa lolos dari serangan Perak Laju di suatu malam yang mencekam. Ia lupa mengunci pintu setelah maghrib, dan tiba-tiba sebuah bayangan perak memasuki rumah lalu menggorok orang seisi rumah. Pada waktu itu, Bapak istri Om, sedang berada di kamar mandi. Setelah keluar dari kamar mandi, ia menemukan seluruh keluarganya terkapar meregang nyawa dengan leher nyaris putus. Kejadian itu menjadi trauma keluarga yang tidak berkesudahan. Om merasa bersalah menyebutkan kata Perak Laju secara tiba-tiba kemarin pagi. Tapi itu kan semua sudah takdir, sudah ada yang mengatur. Tante rupanya masih menyimpan trauma berkepanjangan itu.”
“Saya juga minta maaf Om.” Ucap Ramlan penuh kesedihan. Dia juga merasa bersalah dengan dirawatnya Tante Arema di rumah sakit.
“Itu sudah takdir Nak, Kamu tidak bersalah.” Om berdiri dan pamit ke rumah sakit hendak menunggui istrinya kembali.
Sendirian di rumah, Ramlan kembali hanyut dalam ketakutan tiada kira. Hari libur masih lima hari lagi. Waktu yang cukup lama untuk memendam sebuah rasa takut. Ia khawatir bisa-bisa mati dengan sendirinya akibat memendam rasa takut berlebihan dalam jangka waktu yang cukup lama. Namun sebuah suara kecil dari damirnya menghentak-hentak. “Ayo!” kata itu terus berulang-ulang laksana memerintah melakukan sesuatu. “Ayo!” Kata itu terucap sekali lagi, dua kali lagi, tiga kali lagi. “Ayo!”
Namun logikanya malah balik bertanya, “Ayo apa?” Damir dan logika nya saling berbantahan, berlawanan.
“Lakukan sesuatu!”
“Lakukan apa?”
“Sesuatu yang membuatmu bebas dari rasa takut!”
“Tapi aku takut”
“Kalau kamu takut melakukan sesuatu yang membebaskanmu dari rasa takut, maka kamu akan selalu merasa takut dan mati! Kamu mau mati?
“Aku takut Mati”
“Kalau kamu takut, Kamu akan mati. Jadi kalau kamu takut mati, lakukan sesuatu!”
Kali ini logikanya mulai sedikit mengerti apa yang dimaksud oleh damirnya. Yaitu, merubah cara pandang, “Kalau kamu berani, kamu akan baik-baik saja. Rasa berani akan memaksa kamu melakukan sesuatu mengatasi rasa takut.”
Tiba-tiba Ramlan berteriak nyaris memecahkan gendang-gendang telinganya sendiri, “RAMBO!!!!!”

Selasa, 30 April 2013

KISAH 1000 HARI SABTU

Makin tua, aku makin menikmati Sabtu pagi. Mungkin karena adanya keheningan sunyi senyap sebab aku yang pertama bangun pagi, atau mungkin juga karena tak terkira gembiraku sebab tak usah masuk kerja. Apapun alasannya, beberapa jam pertama Sabtu pagi amat menyenangkan.

Beberapa minggu yang lalu, aku agak memaksa diriku ke dapur dengan membawa secangkir kopi hangat di satu tangan dan koran pagi itu di tangan lainnya. Apa yang biasa saya lakukan di Sabtu pagi, berubah menjadi saat yang tak terlupakan dalam hidup ini. Begini kisahnya.

Aku keraskan suara radioku untuk mendengarkan suatu acara Bincang-bincang Sabtu Pagi. Aku dengar seseorang agak tua dengan suara emasnya. Ia sedang berbicara mengenai seribu kelereng kepada seseorang di telpon yang dipanggil "Tom". Aku tergelitik dan duduk ingin mendengarkan apa obrolannya.

"Dengar Tom, kedengarannya kau memang sibuk dengan pekerjamu. Aku yakin mereka menggajimu cukup banyak, tapi kan sangat sayang sekali kau harus meninggalkan rumah dan keluargamu terlalu sering. Sulit kupercaya kok ada anak muda yang harus bekerja 60 atau 70 jam seminggunya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Untuk menonton pertunjukan tarian putrimu pun kau tak sempat".

Ia melanjutkan : "Biar kuceritakan ini, Tom, sesuatu yang membantuku mengatur dan menjaga prioritas apa yang yang harus kulakukan dalam hidupku".

Lalu mulailah ia menerangkan teori "seribu kelereng" nya. "Begini Tom, suatu hari aku duduk-duduk dan mulai menghiitung-hitung. Kan umumnya orang rata-rata hidup 75 tahun. Ya aku tahu, ada yang lebih dan ada yang kurang, tapi secara rata-rata umumnya kan sekitar 75 tahun. Lalu, aku kalikan 75 ini dengan 52 dan mendapatkan angka 3900 yang merupakan jumlah semua hari Sabtu yang rata-rata dimiliki seseorang selama hidupnya. Sekarang perhatikan benar-benar Tom, aku mau beranjak ke hal yang lebih penting".

"Tahu tidak, setelah aku berumur 55 tahun baru terpikir olehku semua detail ini", sambungnya, "dan pada saat itu aku kan sudah melewatkan 2800 hari Sabtu. Aku terbiasa memikirkan, andaikata aku bisa hidup sampai 75 tahun, maka buatku cuma tersisa sekitar 1000 hari Sabtu yang masih bisa kunikmati".

"Lalu aku pergi ketoko mainan dan membeli tiap butir kelereng yang ada. Aku butuh mengunjungi tiga toko, baru bisa mendapatkan 1000 kelereng itu. Kubawa pulang, kumasukkan dalam sebuah kotak plastik bening besar yang kuletakkan di tempat kerjaku, di samping radio. Setiap Sabtu sejak itu, aku selalu ambil sebutir kelereng dan membuangnya".

"Aku alami, bahwa dengan mengawasi kelereng-kelereng itu menghilang, aku lebih memfokuskan diri pada hal-hal yang betul-betul penting dalam hidupku. Sungguh, tak ada yang lebih berharga daripada mengamati waktumu di dunia ini menghilang dan berkurang, untuk menolongmu membenahi dan meluruskan segala prioritas hidupmu".

"Sekarang aku ingin memberikan pesan terakhir sebelum kuputuskan teleponmu dan mengajak keluar istriku tersayang untuk sarapan pagi. Pagi ini, kelereng terakhirku telah kuambil, kukeluarkan dari kotaknya. Aku befikir, kalau aku sampai bertahan hingga Sabtu yang akan datang, maka Allah telah meberi aku dengan sedikit waktu tambahan ekstra untuk kuhabiskan dengan orang-orang yang kusayangi".

"Senang sekali bisa berbicara denganmu, Tom. Aku harap kau bisa melewatkan lebih banyak waktu dengan orang-orang yang kau kasihi, dan aku berharap suatu saat bisa berjumpa denganmu. Selamat pagi!"

Saat dia berhenti, begitu sunyi hening, jatuhnya satu jarumpun bisa terdengar! Untuk sejenak, bahkan moderator acara itupun membisu. Mungkin ia mau memberi para pendengarnya, kesempatan untuk memikirkan segalanya. Sebenarnya aku sudah merencanakan mau bekerja pagi itu, tetapi aku ganti acara, aku naik ke atas dan membangunkan istriku dengan sebuah kecupan.

"Ayo sayang, kuajak kau dan anak-anak ke luar, pergi sarapan".

"Lho, ada apa ini...?", tanyanya tersenyum.

"Ah, tidak ada apa-apa, tidak ada yang spesial", jawabku, "Kan sudah cukup lama kita tidak melewatkan hari Sabtu dengan anak-anak ? Oh ya, nanti kita berhenti juga di toko mainan ya? Aku butuh beli kelereng."

HAVE A GREAT WEEKEND AND MAY ALL SATURDAYS BE SPECIAL AND MAY YOU HAVE
MANY HAPPY YEARS AFTER YOU LOSE ALL YOUR MARBLES.

Sumber:___Email Yang Tercecer___

Sabtu, 06 Oktober 2012

RAYZA, BANDENG DAN MENIKAH

Sabtu siang adalah saat yang mempererat aku dengan si sulung Rayza. Semasa kecilnya dia sangat membenci ikan, beranjak SD, sedikit demi sedikit dia mulai menyenangi ikan bawal. Semenjak beberapa hari ini, ia mulai mengenal ikan bandeng. Selama ini dia hanya melihat-lihat saja ketika saya menyantap bandeng, tapi suatu ketika tanpa sengaja dia ikut menowel daging bandeng dan mencicipinya, tiba-tiba dia bertanya,
Rayza: ini ikan apa namanya ayah?
Me: ikan bandeng, tapi makannya harus hati-hati karena durinya banyak.
Rayza: Aku mau dong, tapi disuapin sama Ayah ya? Biar tidak tertelan durinya.
Me: Ok.
Sejak saat itu dia mulai menyenangi ikan bandeng, bagian yang paling disenanginya adalah kulitnya, alasannya karena hanya bagian itu yang tidak ada durinya.

Dan siang ini untuk kesekian kalinya saya berdua-duaan dengannya tengah menyuapinya makan ikan bandeng. Mungkin merasa ganjil di umurnya yang sudah 8 tahun masih disuapin, Tiba-tiba dia berkata,
Rayza: Nanti kalau aku sudah punya anak aku juga akan menyuapinya makan.
Me: Wah masih lama, kira-kira kapan kamu punya anak?
Rayza: Yah.. masih lamalah, kira-kira 20 sampai 30 tahun lagi.
Me: Kalau mau punya anak, kamu harus menikah dulu. Nanti kamu mau nikah dengan siapa?
Rayza: Entahlah, mungkin sama Zahra.
Zahra? saya lantas ingat teman sekelasnya yang gendut.
Me: Wah bukannya Zahra sangat besar?
Rayza: Iya, aku tahu, mungkin dia harus sedikit diet untuk menurunkan kolesterolnya.
Me:Memangnya tidak ada temanmu yang lain yang kamu suka selain Zahra?
Rayza: Mungkin Shakila, tapi dia anaknya sangat kecil. Tapi aku tidak suka sama yang kecil.
Me: Lho, tadi katanya suka sama Shakila.
Rayza: Ya, karena dia lahirnya di Malaysia, aku kan suka Ipin dan Upin.
Me: Ha ha ha... Tapi Kamu harus sekolah dulu yang baik, nanti kalau sudah tamat SD, SMP, SMA dan kuliah baru kamu boleh menikah.
Rayza: menikah itu sepertii Ibu dan ayah? Memangnya biaya menikah itu berapa Yah?
Saya pusing harus menjawab apa. Masa' anak seumur dia, sudah menanyakan biaya menikah? Biar tidak banyak tanya lagi makhluk kesayangan saya ini, akhirnya saya tuntaskan saja acara suap menyuapnya..

Selasa, 10 Juli 2012

KAK NAS


Naik kelas II berjuta rasanya. Tak dapat kulukiskan dengan kata-kata. Mengenang satu tahun jatuh bangun, resah, gundah dan gulana, tegang dan bahagia, Tidur malam, bangun subuh dan belajar bahasa di mesjid adalah rangkaian intro nada yang membangun harmonisasi lagu kehidupan yang coba aku nyanyikan. Meski baru intro, namun semangat untuk melanjutkan lagu itu tidak surut sampai di situ.
Namun begitu, naik kelas II belum seberapa jika membayangkan masih harus makan 5 karung mairo (ikan teri yang dikeringkan menyerupai paku berkarat) lagi untuk bisa lepas dari penjara suci ini. Kalau berfikir ke depan bisa-bisa aku frustasi dan berkemas-kemas pulang kampung, berfikir ke belakang adalah jalan terbaik, karena mengenang apa yang telah aku lalui selama setahun, riak-riak bangga dan kagum pada diri sendiri hingga bisa bertahan sejauh ini di pondok ini menampar-nampar relung-relung jiwaku terdalam.
Tiba saatnya bagiku meninggalkan asrama Ibnu Khaldun II, asrama yang banyak meninggalkan kenangan manis. Asrama yang kutuju berikutnya adalah asrama Diponegoro I. Mendapati pembina baru yang kualitasnya jauh lebih rendah dari pembina-pembinaku sebelumnya. Perpisahan dengan kak Muhtar dan kak Usman yang baru saja di wisudah adalah hal sedih yang pernah kami alami, dan yang lebih menyedihkan lagi ketika kak Jenal dan Mulyadi harus membina santri-santri yang baru masuk. Merasa tidak diperhatikan lagi, kami mantan penghuni asrama Ibnu Khaldun II menyimpan sedikit rasa cemburu.
Asrama Diponegoro berdekatan dengan sumur qibar, sumur yang menyimpan banyak misteri. Di depan asrama tersebut berdiri kokoh laboratorium Fisika dan Biologi. Jika melewati beranda depan laboratorium tersebut bisa dilihat tembus pandang kerangka tengkorak tubuh manusia yang dipakai sebagai alat peraga praktikum Biologi. Namun lama kelamaan pemandangan tersebut sedikit mengganggu, apalagi jika melewati laboratorium tersebut pada malam hari. Konon ada yang pernah membual kalau pada malam Jumat kerangka tangannya bisa bergerak-gerak sendiri dan tengkorak kepalanya menggeleng-geleng konon pula seperti gelengan pengunjung diskotik di bawah remang lampu nyala mati.
Aku merasa sangat kehilangan suasana asrama Ibnu Khaldun, pemandangan danau di belakang asrama yang memukau di sore hari, dan pemandangan yang membangkitkan semangat hidup di pagi hari. Akupun merasa sangat kehilangan lagu kebangsaan milik Franky and Jane yang sering diputar kak Usman di pagi hari. Suasana-suasana yang syahdu itu kini menguap begitu saja berganti dengan asramaku yang baru yang berselimut misteri. Kawan-kawan seperjuangan di asrama Ibnu Khaldun dulu kini berpencar, kami dipisah dan menemukan kawan-kawan asrama yang baru.
Tak habis fikir mengapa aku ditempatkan di asrama ini. Penderitaanku serasa makin lengkap ketika menemukan pembina asrama yang aneh dan cuek. 3 orang pembina yang di tempatkan di setiap sudut asrama asyik dengan dirinya sendiri. Zulhadi kakak kelas V yang ditempatkan di sudut depan kanan adalah seorang penikmat seni. Dia begitu mencintai group musik pop barat yang sebahagian aku ingat bernama alphavile dan duran-duran. Laci lemarinya bagian bawah dipenuhi kaset-kaset yang aku sendiri tidak bisa menghitung berapa jumlahnya. Terkadang saking asyiknya dia menikmati musik kesayangannya sampai ia lupa kewajibannya sebagai pembina asrama yang harus mengajarkan kami berdisiplin dan berbahasa. Kami sebagai santri binaannya sampai tidak bisa mengerti apa yang harus kami perbuat, ketika kami bertanya, “Bahasa apa yang harus kami pelajari malam ini?” Dia cuek saja menyodorkan kami sampul kaset barat lalu menyuruh salah seorang di antara kami menulis lirik-lirik lagu yang ada di sampul kaset itu di papan tulis. Lalu kami disuruh menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia.
Pembina yang ada di sudut kanan belakang bernama Hasanuddin, berkaca mata tebal, sensitif dan juga kurang peduli terhadap pembinaan. Ia fans berat Mike Tyson si leher beton meski dirinya sendiri bertubuh kurus dan beratnya tidak lebih dari 47 kg. Artikel-artikel dan berita mengenai petinju pujaannya itu dikumpulkan lalu dirangkumnya menjadi sebuah klipping tebal mengalahkan tebal kacamatanya.
Satu-satunya pembina yang memiliki sedikit kepedulian soal pembinaan adalah Nasruddin kakak kelas VI. Namun kak Nas, kami biasa memanggilnya begitu, adalah seorang santri yang di usianya masih 17 tahun sudah menghafal al-qur’an 30 juz. Menjadi seorang santri kelas VI, hafidz Qur’an sekaligus memiliki anak binaan sebanyak 16 orang membuatnya sulit mengatur waktu kapan harus belajar, mengulang hafalan al Qur’an dan membina santri binaannya. Tapi saya melihatnya sebagai seorang pembina yang berdisiplin tinggi meski penampilannya sedikit agak gemulai. Dia memiliki semacam daily schedule yang dia tulis besar-besar di papan tulis kamarnya. Dan dia tunduk dengan schedule yang dibuatnya sendiri.
Meski sedikit bicara, kami melihat kak Nas sebagai pembina yang mengutamakan model. Dia membina kami dengan caranya sendiri, kak Nas lebih banyak memberikan contoh daripada nasehat. Dia menulis besar-besar di dinding kamarnya tulisan yang berbunyi: Banyak belajar banyak lupa, sedikit belajar sedikit lupa, tidak belajar tidak lupa. Waktu itu aku belum mengerti makna tulisan itu, namun lama kelamaan aku mengerti bahwa manusia adalah mahallul khata’ wannisyaan. Manusia adalah tempatnya salah dan lupa. Dalam bahasa arab kata manusia diambil dari kata Nasiya’ menjadi insan karena sifatnya yang pelupa. Tidak mungkin manusia bisa mengingat semua hal yang dipelajarinya, namun begitu, jika tidak belajar tidak ada yang dia lupakan, artinya tidak ada juga yang pernah dia ingat.
Pernah aku merenung dalam-dalam, sejernih apa fikiran dan hati Kak Nas hingga bisa menampung 6666 ayat al-Qur’an yang tersusun dan terstrukur rapi di dalam  otaknya itu. Pastilah seumur hidupnya pandangannya terjaga, lisannya terkontrol dan hatinya sejernih tetes embun. Sebab jika tidak demikian, mana mungkin cahaya Tuhan bisa masuk ke dalam dirinya. Wa nurullahi la yuhda’ lil aadzi. Dan cahaya Allah tidak akan masuk ke dalam hati orang yang berbuat maksiat. Kak Nas adalah Kitab suci berjalan, firman-firman Allah bersemayam di dalam hatinya sekaligus menancap di dalam otaknya. Baru aku tahu jika menjadi seorang penghafal al Qur’an juga harus memiliki semacam pengakuan berupa sertifikat dari departemen agama. Untuk mendapatkan sertifikat itu tidaklah mudah, Kak Nas harus menjalani beberapa tes yang dilakukan oleh tim dari depag. Kak Nas didudukkan di tengah mesjid, tim depag melingkar setengah lingkaran di depannya. Seorang dari tim membacakan sebuah ayat yang dipilih secara random dari kitab al-Quran kemudian Kak Nas disuruh melanjutkan membaca sambungan ayatnya. Dan Kak Nas bisa melakukannya dengan lancar. Seorang tim lagi memerintahkan untuk membacakan ayat sesuai dengan nama surah dan nomor urut ayat, dan sekali lagi Kak Nas mampu melahapnya. Hadirin berulang-ulang mengumandangkan kata-kata tayyib jiddan-tayyib jiddan. Tim penguji mengangguk-angguk. Pak Hasnawi sebagai pembimbing Kak Nas tak henti-henti berdoa dari dalam hati, usahanya selama ini menjadi pembimbing Kak Nas semoga saja tidak sia-sia dan Kak Nas bisa menjadi santri binaannya yang pertama kali khatam menghafal 30 juz.
Tim penguji tidak mau gegabah dalam memberikan sertifikat, karena pertanggung jawabannya langsung kepada Allah. Tesnya dilakukan berkali-kali, ujiannya dilakukan berulang-ulang. Setiap dilakukan pengujian, para santri, guru-guru berdesakan hendak menyaksikan langsung. Dada mereka berdebar-debar setiap Kak Nas terhenti sejenak, tertunduk khusyuk ketika hendak melanjutkan sambungan ayat yang dilontarkan tim penguji. Lalu Kak Nas seperti mendapat tuntunan malaikat dia sanggup melanjutkan sambungan ayat tersebut dengan lancar dan sempurna. Hadirin mengucapkan subhanallah berulang-ulang, dan hari itu tanpa keraguan sama sekali, tim penguji menyatakan bahwa Kak Nas layak mendapatkan sertifikat itu.
Kak Nas telah membayar tuntas missi pondok ini, melahirkan santri ulama intelek, intelek ulama. Siapapun tahu jika selain sanggup menghafal alquran, di dalam kelas formal Kak Nas juga selalu tampil sebagai rangking 1. Meskipun dia memilih kelas sosial (A3) namun cita-citanya adalah menjadi seorang ekonom. Bukan hanya seorang ahli ibadah yang setiap malam berada di mesjid, berkalung sorban, sujud hingga dahinya hitam lebam. Tetapi lebih dari itu, dia akan berbaur di tengah masyarakat mendedikasikan ilmunya dan menyebarkan keutamaan agama.
Aku merasa bangga menjadi salah seorang santri binaannya, aku kemudian tidak peduli dengan Zulkifli dan Ramli yang cuek, sebab satu Kak Nas adalah seratus pembina yang memiliki cara membina yang baik. 
            Diam-diam di sela berbagai macam kesibukannya, diam-diam Kak Nas juga memiliki sedikit sense of humor. Di suatu malam Jumat ketika sebahagian kawanku pulang ke kota menikmati libur mingguan, Kak Nas mengumpulkan kami di tengah ruangan asrama. Wajahnya yang kusut masai seolah menggambarkan keresahan. Namun dia tetap berdiri di tempatnya memandangi kami yang sedang menunggu reaksi darinya.
            Kami bertanya-tanya dalam hati, apa maksud Kak Nas mengumpulkan kami pada malam Jumat? Bukankah malam Jumat adalah malam bebas dari segala kegiatan pondok? Tidak boleh ada pelajaran bahasa, tidak wejangan akhlak, tidak PR. Ada apa gerangan? Kami menunggu dan terus menunggu apa yang bakal disampaikannya.
            “Begini adek-adek. Kak Nas sengaja mengumpulkan kalian hanya ingin sedikit curhat masalah pribadi. Sebenarnya ini tidak terlalu penting, kalau ada di antara kalian yang memiliki keperluan yang lebih penting, boleh-boleh saja tidak duduk dalam ruangan ini.”
            Curhat? Soal asmara? Keluraga? Ah, Kak Nas juga rupanya memiliki masalah pribadi. Kami penasaran juga hendak mendengar masalah apa yang dihadapi Kak Nas. Sekarang justru kami makin merapatkan duduk mendekati tempat Kak Nas berdiri. Kami ingin tahu lebih jauh, kira-kira masalah apa yang dihadapi seorang hafidz nan jenius ini.           “Begini adek-adek, Minggu lalu ketika kakak ke Kota, Kakak bermaksud membeli sarung. Lalu Kakak menemukan sebuah toko di pinggir jalan yang menjual berbagai macam busana perlengkapan sehari-hari. Toko itu cukup besar dan ramai dikunjungi pembeli. Penjaga tokonya banyak sekali, ada yang laki-laki dan ada pula yang perempuan. Semua karyawan toko sibuk mengurusi pembeli. Kakak masuk ke toko itu lalu berkeliling mencari-cari tempat pemajangan sarung. Saking ramainya pembeli kakak tidak bisa menyusup ke sela-sela kerumunan manusia yang berjejalan di dalam toko. Lalu tiba-tiba seorang ibu menghampiriku lalu meminta tolong kepadaku untuk memegang belanjaannya. Karena ibu itu bermaksud membeli beberapa barang lagi dan kerepotan jika dia harus membawa keranjang belanjaannya di dalam kerumunan toko. Singkat kata, kakak tidak sanggup menolak permintaan tolong ibu tersebut. Tapi salahnya, Kakak tidak memperhatikan dengan jelas ciri-ciri ibu tersebut. Yang aku ingat, Ibu itu bertubuh gemuk, berkerudung, dan berkaca mata. Dan ciri-ciri ibu tersebut sangat umum di dalam toko tersebut.” Kak Nas semakin menampakkan wajah resah, seolah inti cerita ujung-ujungnya adalah cerita sedih diakibatkan kesalahannya dalam mengingat ciri-ciri sang peminta tolong.
            Cerita mulai menarik. Kami serius menyimak, kini kami mulai sadar bahwa seorang hafidz macam Kak Nas pun tidak bisa mengingat dengan baik wajah-wajah orang yang selintas dikenalnya.
            Waktu itu kira-kira pukul 4 sore. Namun hingga menjelang pukul 5 sore, Ibu yang meminta tolong tidak kunjung datang mengambil belanjaan titipannya. Satu jam Kakak sabar menunggu di tempat itu hingga Kakak sendiri lupa niat semula yang hendak membeli sarung. Kakak terus memperhatikan wajah ibu-ibu yang lalu lalang. Kakak berusaha mengingat-ingat ciri-ciri Ibu tersebut. Namun sia-sia, ciri-ciri yang Kakak ingat sungguh umum. Kakak lupa memperhatikan ciri-ciri khusus misalnya apakah ibu itu punya tahi lalat di dagu, di dahi, di bibir atau di tempat lainnya yang mudah dikenali. Akhirnya Kakak memutuskan untuk berkeliling toko mencarinya namun usaha Kakak tetap saja sia-sia. Hampir pukul 6 sore, Kakak harus segera pulang karena waktu shalat Maghrib sudah hampir tiba.”
            Cerita semakin menarik. Santri yang berada di dalam suatu dilema, menolong orang tua menjaga belanjaan atau memenuhi panggilan shalat.
            “Karena toko sudah mulai sepi dan suara shalawat dari mesjid sudah terdengar, maka Kakak akhirnya memilih keluar dari toko tersebut untuk menuju ke mesjid dengan keranjang belanjaan di tangan. Namun apa yang terjadi? Ketika Kakak keluar melewati pintu toko, tiba-tiba alarm toko berbunyi dengan nyaring, dengan wajah garang tiga orang petugas keamanan toko yang berpakaian biasa menghadang langkahku. Dua orang memegang lenganku dan satu orang merebut keranjang belanjaan dari tanganku. Kakak kaget diperlakukan begitu rupa. Kakak diperlakukan seperti seorang maling dan digiring ke dalam kantor yang berada di ruang dalam toko tersebut. Seluruh mata yang ada di sekitar tempat itu terpana menyaksikan kejadian tersebut. Beberapa orang malah langsung reflek mendekatiku dan hendak melayangkan tinju ke wajahku. Kalau saja ke tiga petugas keamanan itu tidak menghalangi, Kakak yakin bakal babak belur dihakimi massa.” Sejenak Kak Nas mendesah, menarik nafas lalu menghembuskan nafas sekeras-kerasnya seraya mengusap sekujur tubuhnya yang masih utuh hingga saat ini.
            Kami merasa prihatin. Perasaan iba tiba-tiba mendera kami. Kami memandangi wajah Kak Nas dalam-dalam pertanda memberi simpati dan dukungan yang mendalam atas peristiwa tragis yang dialaminya. Kalau saja petugas kemanan itu tahu, kalau tas belanjaan itu titipan orang, kalau saja petugas keamanan itu tahu kalau Kak Nas hanya bermaksud keluar sebentar untuk melakukan shalat Maghrib, kalau saja petugas keamanan itu tahu kalau Kak Nas hanyalah seorang santri dan penghafal al-Qur’ an pula.
            “Tapi ketiga petugas itu tidak mau percaya atas alasan yang Kakak ucapkan. Mereka tidak mau tahu soal ibu-ibu itu, tidak mau tahu bahwa Kakak hanya bermaksud keluar sebentar untuk shalat Maghrib. Bagi ketiga petugas itu adalah adanya barang bukti kejahatan. Kakak lalu diminta oleh ketiga petugas itu untuk membeli barang tersebut tiga kali harga resmi. Kakak meraba dompet, Kakak tidak pernah lupa bahwa isi dompet Kakak hanya cukup untuk membeli sarung dan ongkos pulang ke pondok. Kakak tidak pernah membawa uang banyak, apalagi jika disuruh membeli barang-barang yang tidak Kakak perlukan. Uang itu tidak ada. Jadi Kakak menolak membeli barang sekeranjang itu tiga kali lipat”
            “Salah seorang membentak dan memaksa Kakak mengakui bahwa Kakak sudah sering melakukan pekerjaan mengutil ini. Berhubung karena memang Kakak belum pernah melakukannya, jadi Kakak bersikeras tidak mau mengakuinya. Akhirnya mereka memutuskan untuk menyerahkan Kakak ke kantor polisi.”
            Kami menarik nafas. Seorang hafidz berurusan dengan polisi? Malang benar nasibmu hari itu Kak. Sebahagian di antara Kami yang mendengarkan, lalu  mengutuk ibu-ibu pelupa yang menitipkan belanjaannya. Sebab gara-gara dia nasib Kak Nas jadi naas betul. Simpati kian mendalam, dan wajah Kak Nas semakin menampakkan kegundahan.
            “Selanjutnya kakak digiring ke kantor polisi terdekat. Tiga orang anggota kepolisian yang berjaga malam itu lantas berdiri tegak, memberi hormat dan berteriak, Oe… bangun oe…… sahalat subuh… Oe…. Ternyata kak Nas Cuma mimpi adek-adek.”
            Wajah sedu sedan itu kini tersenyum riang. Ia merasa telah mengerjai kami. Gigi-gigi putihnya menyeruak. Merasa dikerjai Kak Nas, kami bukannya marah, kami malah senang, bagai terbangun dari mimpi buruk, kami berdesah senang, syukurlah hanya sebuah mimpi. Sebab kalau tidak, hancurlah reputasi seorang hafidz.