Selasa, 30 April 2013

KISAH 1000 HARI SABTU

Makin tua, aku makin menikmati Sabtu pagi. Mungkin karena adanya keheningan sunyi senyap sebab aku yang pertama bangun pagi, atau mungkin juga karena tak terkira gembiraku sebab tak usah masuk kerja. Apapun alasannya, beberapa jam pertama Sabtu pagi amat menyenangkan.

Beberapa minggu yang lalu, aku agak memaksa diriku ke dapur dengan membawa secangkir kopi hangat di satu tangan dan koran pagi itu di tangan lainnya. Apa yang biasa saya lakukan di Sabtu pagi, berubah menjadi saat yang tak terlupakan dalam hidup ini. Begini kisahnya.

Aku keraskan suara radioku untuk mendengarkan suatu acara Bincang-bincang Sabtu Pagi. Aku dengar seseorang agak tua dengan suara emasnya. Ia sedang berbicara mengenai seribu kelereng kepada seseorang di telpon yang dipanggil "Tom". Aku tergelitik dan duduk ingin mendengarkan apa obrolannya.

"Dengar Tom, kedengarannya kau memang sibuk dengan pekerjamu. Aku yakin mereka menggajimu cukup banyak, tapi kan sangat sayang sekali kau harus meninggalkan rumah dan keluargamu terlalu sering. Sulit kupercaya kok ada anak muda yang harus bekerja 60 atau 70 jam seminggunya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Untuk menonton pertunjukan tarian putrimu pun kau tak sempat".

Ia melanjutkan : "Biar kuceritakan ini, Tom, sesuatu yang membantuku mengatur dan menjaga prioritas apa yang yang harus kulakukan dalam hidupku".

Lalu mulailah ia menerangkan teori "seribu kelereng" nya. "Begini Tom, suatu hari aku duduk-duduk dan mulai menghiitung-hitung. Kan umumnya orang rata-rata hidup 75 tahun. Ya aku tahu, ada yang lebih dan ada yang kurang, tapi secara rata-rata umumnya kan sekitar 75 tahun. Lalu, aku kalikan 75 ini dengan 52 dan mendapatkan angka 3900 yang merupakan jumlah semua hari Sabtu yang rata-rata dimiliki seseorang selama hidupnya. Sekarang perhatikan benar-benar Tom, aku mau beranjak ke hal yang lebih penting".

"Tahu tidak, setelah aku berumur 55 tahun baru terpikir olehku semua detail ini", sambungnya, "dan pada saat itu aku kan sudah melewatkan 2800 hari Sabtu. Aku terbiasa memikirkan, andaikata aku bisa hidup sampai 75 tahun, maka buatku cuma tersisa sekitar 1000 hari Sabtu yang masih bisa kunikmati".

"Lalu aku pergi ketoko mainan dan membeli tiap butir kelereng yang ada. Aku butuh mengunjungi tiga toko, baru bisa mendapatkan 1000 kelereng itu. Kubawa pulang, kumasukkan dalam sebuah kotak plastik bening besar yang kuletakkan di tempat kerjaku, di samping radio. Setiap Sabtu sejak itu, aku selalu ambil sebutir kelereng dan membuangnya".

"Aku alami, bahwa dengan mengawasi kelereng-kelereng itu menghilang, aku lebih memfokuskan diri pada hal-hal yang betul-betul penting dalam hidupku. Sungguh, tak ada yang lebih berharga daripada mengamati waktumu di dunia ini menghilang dan berkurang, untuk menolongmu membenahi dan meluruskan segala prioritas hidupmu".

"Sekarang aku ingin memberikan pesan terakhir sebelum kuputuskan teleponmu dan mengajak keluar istriku tersayang untuk sarapan pagi. Pagi ini, kelereng terakhirku telah kuambil, kukeluarkan dari kotaknya. Aku befikir, kalau aku sampai bertahan hingga Sabtu yang akan datang, maka Allah telah meberi aku dengan sedikit waktu tambahan ekstra untuk kuhabiskan dengan orang-orang yang kusayangi".

"Senang sekali bisa berbicara denganmu, Tom. Aku harap kau bisa melewatkan lebih banyak waktu dengan orang-orang yang kau kasihi, dan aku berharap suatu saat bisa berjumpa denganmu. Selamat pagi!"

Saat dia berhenti, begitu sunyi hening, jatuhnya satu jarumpun bisa terdengar! Untuk sejenak, bahkan moderator acara itupun membisu. Mungkin ia mau memberi para pendengarnya, kesempatan untuk memikirkan segalanya. Sebenarnya aku sudah merencanakan mau bekerja pagi itu, tetapi aku ganti acara, aku naik ke atas dan membangunkan istriku dengan sebuah kecupan.

"Ayo sayang, kuajak kau dan anak-anak ke luar, pergi sarapan".

"Lho, ada apa ini...?", tanyanya tersenyum.

"Ah, tidak ada apa-apa, tidak ada yang spesial", jawabku, "Kan sudah cukup lama kita tidak melewatkan hari Sabtu dengan anak-anak ? Oh ya, nanti kita berhenti juga di toko mainan ya? Aku butuh beli kelereng."

HAVE A GREAT WEEKEND AND MAY ALL SATURDAYS BE SPECIAL AND MAY YOU HAVE
MANY HAPPY YEARS AFTER YOU LOSE ALL YOUR MARBLES.

Sumber:___Email Yang Tercecer___

Sabtu, 06 Oktober 2012

RAYZA, BANDENG DAN MENIKAH

Sabtu siang adalah saat yang mempererat aku dengan si sulung Rayza. Semasa kecilnya dia sangat membenci ikan, beranjak SD, sedikit demi sedikit dia mulai menyenangi ikan bawal. Semenjak beberapa hari ini, ia mulai mengenal ikan bandeng. Selama ini dia hanya melihat-lihat saja ketika saya menyantap bandeng, tapi suatu ketika tanpa sengaja dia ikut menowel daging bandeng dan mencicipinya, tiba-tiba dia bertanya,
Rayza: ini ikan apa namanya ayah?
Me: ikan bandeng, tapi makannya harus hati-hati karena durinya banyak.
Rayza: Aku mau dong, tapi disuapin sama Ayah ya? Biar tidak tertelan durinya.
Me: Ok.
Sejak saat itu dia mulai menyenangi ikan bandeng, bagian yang paling disenanginya adalah kulitnya, alasannya karena hanya bagian itu yang tidak ada durinya.

Dan siang ini untuk kesekian kalinya saya berdua-duaan dengannya tengah menyuapinya makan ikan bandeng. Mungkin merasa ganjil di umurnya yang sudah 8 tahun masih disuapin, Tiba-tiba dia berkata,
Rayza: Nanti kalau aku sudah punya anak aku juga akan menyuapinya makan.
Me: Wah masih lama, kira-kira kapan kamu punya anak?
Rayza: Yah.. masih lamalah, kira-kira 20 sampai 30 tahun lagi.
Me: Kalau mau punya anak, kamu harus menikah dulu. Nanti kamu mau nikah dengan siapa?
Rayza: Entahlah, mungkin sama Zahra.
Zahra? saya lantas ingat teman sekelasnya yang gendut.
Me: Wah bukannya Zahra sangat besar?
Rayza: Iya, aku tahu, mungkin dia harus sedikit diet untuk menurunkan kolesterolnya.
Me:Memangnya tidak ada temanmu yang lain yang kamu suka selain Zahra?
Rayza: Mungkin Shakila, tapi dia anaknya sangat kecil. Tapi aku tidak suka sama yang kecil.
Me: Lho, tadi katanya suka sama Shakila.
Rayza: Ya, karena dia lahirnya di Malaysia, aku kan suka Ipin dan Upin.
Me: Ha ha ha... Tapi Kamu harus sekolah dulu yang baik, nanti kalau sudah tamat SD, SMP, SMA dan kuliah baru kamu boleh menikah.
Rayza: menikah itu sepertii Ibu dan ayah? Memangnya biaya menikah itu berapa Yah?
Saya pusing harus menjawab apa. Masa' anak seumur dia, sudah menanyakan biaya menikah? Biar tidak banyak tanya lagi makhluk kesayangan saya ini, akhirnya saya tuntaskan saja acara suap menyuapnya..

Selasa, 10 Juli 2012

KAK NAS


Naik kelas II berjuta rasanya. Tak dapat kulukiskan dengan kata-kata. Mengenang satu tahun jatuh bangun, resah, gundah dan gulana, tegang dan bahagia, Tidur malam, bangun subuh dan belajar bahasa di mesjid adalah rangkaian intro nada yang membangun harmonisasi lagu kehidupan yang coba aku nyanyikan. Meski baru intro, namun semangat untuk melanjutkan lagu itu tidak surut sampai di situ.
Namun begitu, naik kelas II belum seberapa jika membayangkan masih harus makan 5 karung mairo (ikan teri yang dikeringkan menyerupai paku berkarat) lagi untuk bisa lepas dari penjara suci ini. Kalau berfikir ke depan bisa-bisa aku frustasi dan berkemas-kemas pulang kampung, berfikir ke belakang adalah jalan terbaik, karena mengenang apa yang telah aku lalui selama setahun, riak-riak bangga dan kagum pada diri sendiri hingga bisa bertahan sejauh ini di pondok ini menampar-nampar relung-relung jiwaku terdalam.
Tiba saatnya bagiku meninggalkan asrama Ibnu Khaldun II, asrama yang banyak meninggalkan kenangan manis. Asrama yang kutuju berikutnya adalah asrama Diponegoro I. Mendapati pembina baru yang kualitasnya jauh lebih rendah dari pembina-pembinaku sebelumnya. Perpisahan dengan kak Muhtar dan kak Usman yang baru saja di wisudah adalah hal sedih yang pernah kami alami, dan yang lebih menyedihkan lagi ketika kak Jenal dan Mulyadi harus membina santri-santri yang baru masuk. Merasa tidak diperhatikan lagi, kami mantan penghuni asrama Ibnu Khaldun II menyimpan sedikit rasa cemburu.
Asrama Diponegoro berdekatan dengan sumur qibar, sumur yang menyimpan banyak misteri. Di depan asrama tersebut berdiri kokoh laboratorium Fisika dan Biologi. Jika melewati beranda depan laboratorium tersebut bisa dilihat tembus pandang kerangka tengkorak tubuh manusia yang dipakai sebagai alat peraga praktikum Biologi. Namun lama kelamaan pemandangan tersebut sedikit mengganggu, apalagi jika melewati laboratorium tersebut pada malam hari. Konon ada yang pernah membual kalau pada malam Jumat kerangka tangannya bisa bergerak-gerak sendiri dan tengkorak kepalanya menggeleng-geleng konon pula seperti gelengan pengunjung diskotik di bawah remang lampu nyala mati.
Aku merasa sangat kehilangan suasana asrama Ibnu Khaldun, pemandangan danau di belakang asrama yang memukau di sore hari, dan pemandangan yang membangkitkan semangat hidup di pagi hari. Akupun merasa sangat kehilangan lagu kebangsaan milik Franky and Jane yang sering diputar kak Usman di pagi hari. Suasana-suasana yang syahdu itu kini menguap begitu saja berganti dengan asramaku yang baru yang berselimut misteri. Kawan-kawan seperjuangan di asrama Ibnu Khaldun dulu kini berpencar, kami dipisah dan menemukan kawan-kawan asrama yang baru.
Tak habis fikir mengapa aku ditempatkan di asrama ini. Penderitaanku serasa makin lengkap ketika menemukan pembina asrama yang aneh dan cuek. 3 orang pembina yang di tempatkan di setiap sudut asrama asyik dengan dirinya sendiri. Zulhadi kakak kelas V yang ditempatkan di sudut depan kanan adalah seorang penikmat seni. Dia begitu mencintai group musik pop barat yang sebahagian aku ingat bernama alphavile dan duran-duran. Laci lemarinya bagian bawah dipenuhi kaset-kaset yang aku sendiri tidak bisa menghitung berapa jumlahnya. Terkadang saking asyiknya dia menikmati musik kesayangannya sampai ia lupa kewajibannya sebagai pembina asrama yang harus mengajarkan kami berdisiplin dan berbahasa. Kami sebagai santri binaannya sampai tidak bisa mengerti apa yang harus kami perbuat, ketika kami bertanya, “Bahasa apa yang harus kami pelajari malam ini?” Dia cuek saja menyodorkan kami sampul kaset barat lalu menyuruh salah seorang di antara kami menulis lirik-lirik lagu yang ada di sampul kaset itu di papan tulis. Lalu kami disuruh menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia.
Pembina yang ada di sudut kanan belakang bernama Hasanuddin, berkaca mata tebal, sensitif dan juga kurang peduli terhadap pembinaan. Ia fans berat Mike Tyson si leher beton meski dirinya sendiri bertubuh kurus dan beratnya tidak lebih dari 47 kg. Artikel-artikel dan berita mengenai petinju pujaannya itu dikumpulkan lalu dirangkumnya menjadi sebuah klipping tebal mengalahkan tebal kacamatanya.
Satu-satunya pembina yang memiliki sedikit kepedulian soal pembinaan adalah Nasruddin kakak kelas VI. Namun kak Nas, kami biasa memanggilnya begitu, adalah seorang santri yang di usianya masih 17 tahun sudah menghafal al-qur’an 30 juz. Menjadi seorang santri kelas VI, hafidz Qur’an sekaligus memiliki anak binaan sebanyak 16 orang membuatnya sulit mengatur waktu kapan harus belajar, mengulang hafalan al Qur’an dan membina santri binaannya. Tapi saya melihatnya sebagai seorang pembina yang berdisiplin tinggi meski penampilannya sedikit agak gemulai. Dia memiliki semacam daily schedule yang dia tulis besar-besar di papan tulis kamarnya. Dan dia tunduk dengan schedule yang dibuatnya sendiri.
Meski sedikit bicara, kami melihat kak Nas sebagai pembina yang mengutamakan model. Dia membina kami dengan caranya sendiri, kak Nas lebih banyak memberikan contoh daripada nasehat. Dia menulis besar-besar di dinding kamarnya tulisan yang berbunyi: Banyak belajar banyak lupa, sedikit belajar sedikit lupa, tidak belajar tidak lupa. Waktu itu aku belum mengerti makna tulisan itu, namun lama kelamaan aku mengerti bahwa manusia adalah mahallul khata’ wannisyaan. Manusia adalah tempatnya salah dan lupa. Dalam bahasa arab kata manusia diambil dari kata Nasiya’ menjadi insan karena sifatnya yang pelupa. Tidak mungkin manusia bisa mengingat semua hal yang dipelajarinya, namun begitu, jika tidak belajar tidak ada yang dia lupakan, artinya tidak ada juga yang pernah dia ingat.
Pernah aku merenung dalam-dalam, sejernih apa fikiran dan hati Kak Nas hingga bisa menampung 6666 ayat al-Qur’an yang tersusun dan terstrukur rapi di dalam  otaknya itu. Pastilah seumur hidupnya pandangannya terjaga, lisannya terkontrol dan hatinya sejernih tetes embun. Sebab jika tidak demikian, mana mungkin cahaya Tuhan bisa masuk ke dalam dirinya. Wa nurullahi la yuhda’ lil aadzi. Dan cahaya Allah tidak akan masuk ke dalam hati orang yang berbuat maksiat. Kak Nas adalah Kitab suci berjalan, firman-firman Allah bersemayam di dalam hatinya sekaligus menancap di dalam otaknya. Baru aku tahu jika menjadi seorang penghafal al Qur’an juga harus memiliki semacam pengakuan berupa sertifikat dari departemen agama. Untuk mendapatkan sertifikat itu tidaklah mudah, Kak Nas harus menjalani beberapa tes yang dilakukan oleh tim dari depag. Kak Nas didudukkan di tengah mesjid, tim depag melingkar setengah lingkaran di depannya. Seorang dari tim membacakan sebuah ayat yang dipilih secara random dari kitab al-Quran kemudian Kak Nas disuruh melanjutkan membaca sambungan ayatnya. Dan Kak Nas bisa melakukannya dengan lancar. Seorang tim lagi memerintahkan untuk membacakan ayat sesuai dengan nama surah dan nomor urut ayat, dan sekali lagi Kak Nas mampu melahapnya. Hadirin berulang-ulang mengumandangkan kata-kata tayyib jiddan-tayyib jiddan. Tim penguji mengangguk-angguk. Pak Hasnawi sebagai pembimbing Kak Nas tak henti-henti berdoa dari dalam hati, usahanya selama ini menjadi pembimbing Kak Nas semoga saja tidak sia-sia dan Kak Nas bisa menjadi santri binaannya yang pertama kali khatam menghafal 30 juz.
Tim penguji tidak mau gegabah dalam memberikan sertifikat, karena pertanggung jawabannya langsung kepada Allah. Tesnya dilakukan berkali-kali, ujiannya dilakukan berulang-ulang. Setiap dilakukan pengujian, para santri, guru-guru berdesakan hendak menyaksikan langsung. Dada mereka berdebar-debar setiap Kak Nas terhenti sejenak, tertunduk khusyuk ketika hendak melanjutkan sambungan ayat yang dilontarkan tim penguji. Lalu Kak Nas seperti mendapat tuntunan malaikat dia sanggup melanjutkan sambungan ayat tersebut dengan lancar dan sempurna. Hadirin mengucapkan subhanallah berulang-ulang, dan hari itu tanpa keraguan sama sekali, tim penguji menyatakan bahwa Kak Nas layak mendapatkan sertifikat itu.
Kak Nas telah membayar tuntas missi pondok ini, melahirkan santri ulama intelek, intelek ulama. Siapapun tahu jika selain sanggup menghafal alquran, di dalam kelas formal Kak Nas juga selalu tampil sebagai rangking 1. Meskipun dia memilih kelas sosial (A3) namun cita-citanya adalah menjadi seorang ekonom. Bukan hanya seorang ahli ibadah yang setiap malam berada di mesjid, berkalung sorban, sujud hingga dahinya hitam lebam. Tetapi lebih dari itu, dia akan berbaur di tengah masyarakat mendedikasikan ilmunya dan menyebarkan keutamaan agama.
Aku merasa bangga menjadi salah seorang santri binaannya, aku kemudian tidak peduli dengan Zulkifli dan Ramli yang cuek, sebab satu Kak Nas adalah seratus pembina yang memiliki cara membina yang baik. 
            Diam-diam di sela berbagai macam kesibukannya, diam-diam Kak Nas juga memiliki sedikit sense of humor. Di suatu malam Jumat ketika sebahagian kawanku pulang ke kota menikmati libur mingguan, Kak Nas mengumpulkan kami di tengah ruangan asrama. Wajahnya yang kusut masai seolah menggambarkan keresahan. Namun dia tetap berdiri di tempatnya memandangi kami yang sedang menunggu reaksi darinya.
            Kami bertanya-tanya dalam hati, apa maksud Kak Nas mengumpulkan kami pada malam Jumat? Bukankah malam Jumat adalah malam bebas dari segala kegiatan pondok? Tidak boleh ada pelajaran bahasa, tidak wejangan akhlak, tidak PR. Ada apa gerangan? Kami menunggu dan terus menunggu apa yang bakal disampaikannya.
            “Begini adek-adek. Kak Nas sengaja mengumpulkan kalian hanya ingin sedikit curhat masalah pribadi. Sebenarnya ini tidak terlalu penting, kalau ada di antara kalian yang memiliki keperluan yang lebih penting, boleh-boleh saja tidak duduk dalam ruangan ini.”
            Curhat? Soal asmara? Keluraga? Ah, Kak Nas juga rupanya memiliki masalah pribadi. Kami penasaran juga hendak mendengar masalah apa yang dihadapi Kak Nas. Sekarang justru kami makin merapatkan duduk mendekati tempat Kak Nas berdiri. Kami ingin tahu lebih jauh, kira-kira masalah apa yang dihadapi seorang hafidz nan jenius ini.           “Begini adek-adek, Minggu lalu ketika kakak ke Kota, Kakak bermaksud membeli sarung. Lalu Kakak menemukan sebuah toko di pinggir jalan yang menjual berbagai macam busana perlengkapan sehari-hari. Toko itu cukup besar dan ramai dikunjungi pembeli. Penjaga tokonya banyak sekali, ada yang laki-laki dan ada pula yang perempuan. Semua karyawan toko sibuk mengurusi pembeli. Kakak masuk ke toko itu lalu berkeliling mencari-cari tempat pemajangan sarung. Saking ramainya pembeli kakak tidak bisa menyusup ke sela-sela kerumunan manusia yang berjejalan di dalam toko. Lalu tiba-tiba seorang ibu menghampiriku lalu meminta tolong kepadaku untuk memegang belanjaannya. Karena ibu itu bermaksud membeli beberapa barang lagi dan kerepotan jika dia harus membawa keranjang belanjaannya di dalam kerumunan toko. Singkat kata, kakak tidak sanggup menolak permintaan tolong ibu tersebut. Tapi salahnya, Kakak tidak memperhatikan dengan jelas ciri-ciri ibu tersebut. Yang aku ingat, Ibu itu bertubuh gemuk, berkerudung, dan berkaca mata. Dan ciri-ciri ibu tersebut sangat umum di dalam toko tersebut.” Kak Nas semakin menampakkan wajah resah, seolah inti cerita ujung-ujungnya adalah cerita sedih diakibatkan kesalahannya dalam mengingat ciri-ciri sang peminta tolong.
            Cerita mulai menarik. Kami serius menyimak, kini kami mulai sadar bahwa seorang hafidz macam Kak Nas pun tidak bisa mengingat dengan baik wajah-wajah orang yang selintas dikenalnya.
            Waktu itu kira-kira pukul 4 sore. Namun hingga menjelang pukul 5 sore, Ibu yang meminta tolong tidak kunjung datang mengambil belanjaan titipannya. Satu jam Kakak sabar menunggu di tempat itu hingga Kakak sendiri lupa niat semula yang hendak membeli sarung. Kakak terus memperhatikan wajah ibu-ibu yang lalu lalang. Kakak berusaha mengingat-ingat ciri-ciri Ibu tersebut. Namun sia-sia, ciri-ciri yang Kakak ingat sungguh umum. Kakak lupa memperhatikan ciri-ciri khusus misalnya apakah ibu itu punya tahi lalat di dagu, di dahi, di bibir atau di tempat lainnya yang mudah dikenali. Akhirnya Kakak memutuskan untuk berkeliling toko mencarinya namun usaha Kakak tetap saja sia-sia. Hampir pukul 6 sore, Kakak harus segera pulang karena waktu shalat Maghrib sudah hampir tiba.”
            Cerita semakin menarik. Santri yang berada di dalam suatu dilema, menolong orang tua menjaga belanjaan atau memenuhi panggilan shalat.
            “Karena toko sudah mulai sepi dan suara shalawat dari mesjid sudah terdengar, maka Kakak akhirnya memilih keluar dari toko tersebut untuk menuju ke mesjid dengan keranjang belanjaan di tangan. Namun apa yang terjadi? Ketika Kakak keluar melewati pintu toko, tiba-tiba alarm toko berbunyi dengan nyaring, dengan wajah garang tiga orang petugas keamanan toko yang berpakaian biasa menghadang langkahku. Dua orang memegang lenganku dan satu orang merebut keranjang belanjaan dari tanganku. Kakak kaget diperlakukan begitu rupa. Kakak diperlakukan seperti seorang maling dan digiring ke dalam kantor yang berada di ruang dalam toko tersebut. Seluruh mata yang ada di sekitar tempat itu terpana menyaksikan kejadian tersebut. Beberapa orang malah langsung reflek mendekatiku dan hendak melayangkan tinju ke wajahku. Kalau saja ke tiga petugas keamanan itu tidak menghalangi, Kakak yakin bakal babak belur dihakimi massa.” Sejenak Kak Nas mendesah, menarik nafas lalu menghembuskan nafas sekeras-kerasnya seraya mengusap sekujur tubuhnya yang masih utuh hingga saat ini.
            Kami merasa prihatin. Perasaan iba tiba-tiba mendera kami. Kami memandangi wajah Kak Nas dalam-dalam pertanda memberi simpati dan dukungan yang mendalam atas peristiwa tragis yang dialaminya. Kalau saja petugas kemanan itu tahu, kalau tas belanjaan itu titipan orang, kalau saja petugas keamanan itu tahu kalau Kak Nas hanya bermaksud keluar sebentar untuk melakukan shalat Maghrib, kalau saja petugas keamanan itu tahu kalau Kak Nas hanyalah seorang santri dan penghafal al-Qur’ an pula.
            “Tapi ketiga petugas itu tidak mau percaya atas alasan yang Kakak ucapkan. Mereka tidak mau tahu soal ibu-ibu itu, tidak mau tahu bahwa Kakak hanya bermaksud keluar sebentar untuk shalat Maghrib. Bagi ketiga petugas itu adalah adanya barang bukti kejahatan. Kakak lalu diminta oleh ketiga petugas itu untuk membeli barang tersebut tiga kali harga resmi. Kakak meraba dompet, Kakak tidak pernah lupa bahwa isi dompet Kakak hanya cukup untuk membeli sarung dan ongkos pulang ke pondok. Kakak tidak pernah membawa uang banyak, apalagi jika disuruh membeli barang-barang yang tidak Kakak perlukan. Uang itu tidak ada. Jadi Kakak menolak membeli barang sekeranjang itu tiga kali lipat”
            “Salah seorang membentak dan memaksa Kakak mengakui bahwa Kakak sudah sering melakukan pekerjaan mengutil ini. Berhubung karena memang Kakak belum pernah melakukannya, jadi Kakak bersikeras tidak mau mengakuinya. Akhirnya mereka memutuskan untuk menyerahkan Kakak ke kantor polisi.”
            Kami menarik nafas. Seorang hafidz berurusan dengan polisi? Malang benar nasibmu hari itu Kak. Sebahagian di antara Kami yang mendengarkan, lalu  mengutuk ibu-ibu pelupa yang menitipkan belanjaannya. Sebab gara-gara dia nasib Kak Nas jadi naas betul. Simpati kian mendalam, dan wajah Kak Nas semakin menampakkan kegundahan.
            “Selanjutnya kakak digiring ke kantor polisi terdekat. Tiga orang anggota kepolisian yang berjaga malam itu lantas berdiri tegak, memberi hormat dan berteriak, Oe… bangun oe…… sahalat subuh… Oe…. Ternyata kak Nas Cuma mimpi adek-adek.”
            Wajah sedu sedan itu kini tersenyum riang. Ia merasa telah mengerjai kami. Gigi-gigi putihnya menyeruak. Merasa dikerjai Kak Nas, kami bukannya marah, kami malah senang, bagai terbangun dari mimpi buruk, kami berdesah senang, syukurlah hanya sebuah mimpi. Sebab kalau tidak, hancurlah reputasi seorang hafidz.

Sabtu, 14 April 2012

MENGENANG 100 TAHUN TENGGELAMNYA KAPAL TITANIC

Masih teringat dibenakku di pertengahan 1997, bioskop-bioskop menjadi sangat sesak, tak henti-hentinya para penonton mengantre tiket untuk menonton film fenomenal masa itu: TITANIC karya sutradara James cameron. Beberapa di antara mereka bahkan kembali berdesak-desakan mengantri untuk menonton film tersebut kedua atau ketiga kalinya. Saya adalah salah satunya! Bisa ditebak bahwa saya tidak pernah kembali lagi mengunjungi bioskop sampai suatu saat nanti ada film yang bisa melebihi dahsyatnya film Titanic.
Dan hari ini 14 April 2012 tepat 100 tahun yang lampau kapal Titanic belum tenggelam, kapal besar dan mewah itu masih berada tepat di 365 mil di selatan newfoundland pada pelayaran perdananya dari Southampton menuju New york. Kapal yang digadang-gadang oleh pemiliknya sebagai kapal yang tidak bisa tenggelam itu dibangun pada tahun 1909-1911 dan diklaim sebagai kapal penumpang terbesar pada saat itu. Padanya itupula pemilik dan pembuat kapal semakin angkuh dengan menamainya titanic=raksasa-maha besar.
Pada pukul 23.40 (waktu kapal), pengawas Frederic Fleet melihat gunung es tepat di depan Titanic dan memberitahu anjungan. First officer William Murdoch memerintahkan kapal dibelokkan mengitari es dan mesin dimundurkan,tetapi sudah terlambat; sisi kanan Titanic menabrak gunung es, sehingga menciptakan serangkaian lubang di bawah garis air. Lima kompartemen kedap air kapal bocor. Semakin jelas bahwa kapal ini terancam, karena kapal ini tidak bisa selamat jika lebih dari empat kompartemen bocor. Titanic mulai tenggelam haluan dulu, dengan air masuk dari satu kompartemen ke kompartemen lain ketika sudut kapal di air semakin curam membentuk 23 deajat. Titanic tenggelam lungsur ke dasar samudera setelah kapal patah di bagian tengahnya.
Naas .....dari 2224 jumlah awak dan penumpang hanya 710 orang yang selamat. Dunia murka, bagaimana mungkin kapal sebesar dan semewah itu hanya menyediakan 20 sekoci? Mungkin pemilik kapal itu terlalu angkuh dan membanggakan bahwa kapal yang tidak mungkin tenggelam itu menganggap sekoci hanyalah sebagai pelengkap semata.
Peristiwa tenggelamnya kapal titanic membuka mata kita, bahwa secanggih, dan sepintar-pintarnya manusia, Tuhan yang maha kuasa, Dialah segala maha, tidak seorang manusia pun yang bisa menandingi kuasaNya. Kesombongan adalah sifat yang dibenciNya. Ingat pula pesawat ulang alik yang dinamai “challenger” sang penakluk karena diklaim sebagai pesawat ulang alik tercanggih dan moderen pada zamannya, tapi apa daya, pesawat ulang alik tersebut meledak dan hancur lebur di angkasa sesaat setelah mengudara.  Ini adalah peringatan yang patut dijadikan pegangan bahwa manusia boleh berencana, tapi jangan sombong karena ada Tuhan yang maha penentu.
Sebuah bencana tidak boleh ditangisi berlama-lama, harus diambil hikmah dari kejadian tersebut, dan Salah satu warisan terpenting dari bencana ini adalah penetapan konvensi Interneasional mengenai keselamatan penumpang di laut (SOLAS), yang masih mengatur keselamatan laut sampai sekarang. Banyak korban selamat kehilangan seluruh kekayaan dan harta benda mereka dan menjadi miskin; banyak keluarga, terutama keluarga awak kapal dari Southampton, kehilangan sumber nafkah utamanya. Mereka semua dibantu oleh banjirnya simpati dan sumbangan amal dari masyarakat. Beberapa pria yang selamat, terutama kepala White Star Line,J Bruce Ismay, dicela sebagai pengecut karena meninggalkan kapal ketika penumpang lain masih di atasnya, dan mereka diasingkan oleh publik.

Bangkai Titanic masih berada di dasar laut, perlahan hancur di kedalaman 12.415 kaki (3,784m). Sejak ditemukan kembali pada tahun 1985, ribuan artefak diangkat dari dasar laut dan dipamerkan di berbagai museum di seluruh dunia. Titanic telah menjadi salah satu kapal ternama dalam sejarah.

Senin, 19 Maret 2012

EMAS

Beberapa waktu yang lalu, di Mesir hidup seorang sufi yang tersohor bernama Zun-Nun. Seorang pemuda mendatanginya dan bertanya, "Guru, saya belum paham mengapa orang seperti Anda mesti berpakaian apa adanya, amat sangat sederhana. Bukankah di zaman ini berpakaian necis amat perlu, bukan hanya untuk penampilan namun juga untuk tujuan banyak hal lain." Sang sufi hanya tersenyum; ia lalu melepaskan cincin dari salah satu jarinya, lalu berkata,
"Sobat muda, akan kujawab pertanyaanmu, tetapi lebih dahulu lakukan satu hal untukku. Ambillah cincin ini dan bawalah ke pasar di seberang sana. Cobalah, bisakah kamu menjualnya seharga satu keping emas."
Melihat cincin Zun-Nun yang kotor, pemuda tadi merasa ragu, "Satu keping emas? Saya tidak yakin cincin ini bisa dijual seharga itu."
"Cobalah dulu sobat muda. Siapa tahu kamu berhasil."
Pemuda itu pun bergegas ke pasar. Ia menawarkan cincin itu kepada pedagang kain, pedagang sayur, penjual daging dan ikan, serta kepada yang lainnya. Ternyata, tak seorang pun berani membeli seharga satu keping emas. Mereka menawarnya hanya satu keping perak. Tentu saja, pemuda itu tak berani menjualnya dengan harga satu keping perak. Ia kembali ke padepokan Zun-Nun dan melapor,
"Guru, tak seorang pun yang berani menawar lebih dari satu keping perak."
Zun-Nun, sambil tetap tersenyum arif, berkata, "Sekarang pergilah kamu ke toko emas di belakang jalan ini. Coba perlihatkan kepada pemilik toko atau tukang emas di sana. Jangan buka harga. Dengarkan saja, bagaimana ia memberikan penilaian." Pemuda itu pun pergi ke toko emas yang dimaksud. Ia kembali kepada Zun-Nun dengan raut wajah yang lain. Ia kemudian melapor,
"Guru, ternyata para pedagang di pasar tidak tahu nilai sesungguhnya dari cincin ini. Pedagang emas menawarnya dengan harga seribu keping emas. Rupanya nilai cincin ini seribu kali lebih tinggi daripada yang ditawar oleh para pedagang di pasar."
Zun-Nun tersenyum simpul sambil berujar lirih, "Itulah jawaban atas pertanyaanmu tadi sobat muda. Seseorang tak bisa dinilai dari pakaiannya. Hanya "para pedagang sayur, ikan dan daging di pasar" yang menilai demikian. Namun tidak bagi "pedagang emas". Emas dan permata yang ada dalam diri seseorang, hanya bisa dilihat dan dinilai jika kita mampu melihat ke kedalaman jiwa. Diperlukan kearifan untuk menjenguknya. Dan itu butuh proses wahai sobat mudaku. Kita tak bisa menilainya hanya dengan tutur kata dan sikap yang kita dengar dan lihat sekilas. Seringkali yang disangka emas ternyata loyang dan yang kita lihat sebagai loyang ternyata emas."

Rabu, 23 November 2011

Hukum Newton VS Pekerjaan

Adakalanya manusia merasa malas atau berat untuk memulai suatu pekerjaan misal sewaktu akan bekerja pagi hari, berangkat kuliah pagi-pagi, menulis skripsi dan lain-lain. Tetapi begitu dimulai, wah ternyata tidak seberat itu... untuk selanjutnya menjadi lebih mudah bahkan kadang-kadang sulit dihentikan, apalagi jika itu berhubungan dengan kegiatan tulis-menulis.
Jika diperhatikan, gejala yang sama kita temui pada alat-alat elektronika seperti setrika. Saat mulai menyalakan setrika, butuh waktu agak lama untuk panas. Jika sudah panas, dengan sangat cepat kita bisa menaikkan temperaturnya (lebih cepat dibanding saat mulai dinyalakan). Demikian juga lampu yang butuh waktu untuk menyala pada saat di switch.
Ada apakah dalam semua gejala itu?

Jika dihubungkan dengan fisika. semua benda di dunia ini punya energi ambang, sampai ke tingkat elektron sekalipun. Untuk dapat menggerakkan elektron kita perlu memberi energi di atas energi ambangnya, di bawah energi ambang, nothing happen! Tetapi di atas energi ambang, elektron sangat mobile. Dan elektron yang bergerak ini tidak lain adalah listrik yang digunakan untuk memanaskan setrika, menyalakan lampu dan lainnya. Pembentuk tubuh kita pun jika kita runut sampai yang terkecil terdiri dari atom yang memiliki elektron. Itulah sebabnya kita pun mengikuti sifat dasar dari penyusun tersebut.

Itu artinya kita punya energi ambang yang harus dilewati jika ingin mengerjakan sesuatu. Dengan kata lain perlu sesuatu dari luar untuk bisa meningkatkan mobilitas kita sehingga termotivasi untuk melakukan sesuatu pekerjaan. Jika motivasi itu kurang maka kita cenderung tidak melakukan pekerjaan tersebut. Demikian sebaliknya jika motivasi itu sangat besar maka pekerjaan itu akan terlaksana.
Hal ini sesuai jika kita hubungkan dengan Hk.I Newton tentang kelembaman yang berbunyi: "suatu benda yang diam akan cenderung diam jika tidak ada gaya luar yang bekerja padanya. Demikian juga untuk benda yang bergerak akan cenderung bergerak jika tidak ada pengaruh gaya luar". Nah, jelas kan manusia butuh suatu "gaya" dari luar untuk mengatasi kelembamannya? "Gaya" bisa di ekivalensikan dengan motivasi. Motivasi terbesar adalah jika kita meniatkan segala sesuatunya untuk ibadah maka pahala sebagai balasan tambahan dari motivasi, tentu saja selain hasil dari yang kita kerjakan tersebut. Jika kita percaya akan hal itu, cukuplah ini sebagai motivasi.

Selanjutnya bisa dihubungkan dengan HK.III Newton yang berbunyi: "Jika sebuah benda melakukan gaya aksi terhadap benda lain maka benda itu akan memberikan gaya reaksi sebesar gaya aksi". Disini berlaku Jika seseorang malas bekerja ya tidak akan mendapat apa-apa sebaliknya seseorang yang bekerja keras akan mendapat setimpal dengan perkerjaannya. jadi jelas kan hasil yang kita dapat itu kurang lebih sebanding dengan usaha yang kita keluarkan. Meskipun kita percaya masih ada konstanta X yang tidak bisa diabaikan yang menghubungkan keduanya.

Bagaimana dengan HK II Newton? HK. II Newton mengatakan gaya sebanding dengan massa dikali percepatan. F=m.a berarti semakin besar gaya yang diberikan semakin cepat suatu benda bergerak. Semakin besar usaha yang kita lakukan maka semakin cepat pekerjaan kita selesai dan semakin banyak waktu untuk mengerjakan pekerjaan yang lain.
Nah…..Selamat membuktikan HK Newton dalam kehidupan kita….., jangan lupa niatkan pekerjaan kita untuk kebaikan agar hasilnya tidak sama dengan 0 atau lebih kecil dari 0.

Senin, 14 November 2011

UJIAN


Pagi hari setelah shalat subuh dan usai belajar bahasa di mesjid, wajah-wajah kuyu, layu dan tidak bersemangat berhamburan kembali ke asrama masing-masing. Tradisi pagi untuk beberapa orang santri kembali harus dimulai. Melipat properti shalat dan menggantinya dengan pakaian ala kadarnya. Tujuannya adalah bersih-bersih.
Aku mendapati lantai kamar sudah dibanjiri air. Di kolong ranjang, di bawah lemari hingga ke sudut-sudut yang paling sulit dijangkau sekalipun sudah digenangi air setinggi paha (paha ayam). Santri-santri terpaksa harus berjinjit dan melangkah sepelan mungkin supaya tidak terpeleset atau terciprat air. Ini sudah menjadi kebiasaan Jenal Amin menyiram lantai kamar sepuluh ember dan sudah menjadi kewajiban santri yang bertugas hari itu untuk mengepel dan mengeringkannya.
Hari ini adalah giliran saya berempat dengan Syamsul Arifin, Hawa Baja dan Yazman. Cara kerja mengepel menggiring air banjir yang melanda ruangan kamar terbiasa kami lakukan tergolong unik. Lantai kamar dipel menggunakan handuk bekas yang sudah tidak terpakai lagi dengan cara memegang ke dua ujungnya. Aku memegang ujung kiri dan Baja di ujung kanan. Kami berdua tiarap di kolong ranjang lalu bergerak mundur menarik handuk tersebut menyapu air yang tergenang seluas 6,5 kali 13 meter. Kami melakukannya seperti tentara yang latihan perang di bawah kawat berduri. Baja melakukannya dalam diam namun saya tahu di benaknya sedang menari-nari gairah bahwa suatu saat nanti dia akan meninggalkan zona derita ini dan memasuki zona nyaman yang sudah tidak lama lagi (empat tahun); Menjadi kelas V dan menjadi anggota qismul amni. Sementara Syamsul Arifin dan Yazman melakukan hal yang sama di bawah deretan kolong ranjang lainnya. Melelahkan dan membahayakan. Setelah kolong ranjang kering dari air, kami kemudian menggeser jejeran lemari satu demi satu kedepan dan membersihkan genangan air di bawahnya lalu mengembalikan posisi lemari-lemari tersebut ke tempat semula setelah air di bawahnya kering. Pada saat proses pembersihan dilakukan, pintu asrama ditutup dan santri-santri yang lain tidak boleh masuk karena akan mengganggu dan mengotori lantai yang sudah dipel. Sekumpulan santri yang selesai mandi menunggu di depan pintu biasanya melakukan protes dan sebagian lainnya melontarkan kata-kata mutiara yang memberi semangat supaya kami cepat-cepat menyelesaikan tugas itu.
Waktu yang sangat sempit untuk melakukan banyak tugas di pagi itu memaksa kami melaksanakan kewajiban itu secepat mungkin, karena setelah ini kami masih harus mandi, antri di dapur mengambil sarapan dan menyiapkan seragam untuk dipakai ke kelas formal.
Sayup-sayup sebuah lagu milik Franky & Jane mengalun dari ruangan Kak Usman pembina kelas VI kami. Lagu itu diputarnya setiap pagi menambah gamangnya perjuangan hidup yang kami lakoni setiap pagi. Lagu itu tidak memberi sedikitpun spirit atau menambah energi kami menuntaskan pagi ini sesegera mungkin. Namun lagu itu adalah lagu kesukaan Kak Usman, tidak ada yang berani protes atau memaksa Kak Usman menghentikan lagu itu. Kami hanya menikmatinya saja. Namun lama kelamaan lagu itu menjadi lagu balada kenangan yang tidak bisa kami lupakan sampai detik ini. Aku tidak ingat judul lagunya, namun suara Jane yang sengau, khas dan renyah meyakinkan saya bahwa siapapun kenal lagu ini. Coba kita lihat liriknya: Duduk di hadapanku seorang ibu – dengan wajah sendu, sendu kelabu- Penuh rasa haru, ia menatapku – Seakan ingin memeluk diriku. Cukup sampai di sini saja, lirik selanjutnya pastilah sudah tau. Sama sekali tidak meriakkan spirit bukan?
Hampir jam tujuh pagi, dan aku tidak memikirkan soal sarapan lagi. Aku harus secepatnya menuju sumur untuk mandi dan bersiap-siap ke kelas. Jika tidak, terlambat sedikit saja bisa-bisa malam nanti masuk qismul amni dan pagi-pagi dapat jatah membersihkan WC, kalau begini terus akan jadi mata rantai dan kapan aku bisa sarapannya? Sarapan memang menjadi kegiatan yang sangat penting walau dengan menu ‘paku berkarat’ sekalipun karena masa sudah memasuki musim ujian.
Pak Laode guru administrasi termasuk salah seorang yang paling sibuk jika musim ujian tiba. Selain sebagai guru administrasi, beliau juga dipercaya menangani urusan percetakan. Pondok melakukan swakelola dalam urusan cetak mencetak soal-soal ujian. Setumpuk soal berbagai mata pelajaran untuk semua tingkatan kelas telah menumpuk di meja percetakan pondok yang terletak di ujung belakang sebelah kanan aula utama. Sebuah papan pengumuman bertuliskan “Restricted Area” usang menempel di pintu masuk percetakan.
Untuk menuntaskan pencetakan soal-soal itu, tak jarang pak Laode harus melakukan kerja lembur. Beliau kadang tidak tidur selama dua minggu penuh sampai pelaksanaan ujian selesai. Proyek percetakan soal-soal ujian sebenarnya termasuk salah satu proyek rahasia pondok. Jarang sekali yang tahu kalau pak Laode guru administrasi itu adalah sosok yang paling berperan melakukan cetak mencetak soal. Karena selama ini beliau hanya guru ‘biasa’ yang tidak tinggal di dalam pondok. Beliau datang ke pondok hanya jika memiliki jam-jam mengajar administrasi untuk tingkat tsanawiyah kelas I sampai kelas III. Dan jika pak Laode ada di pondok di malam hari itu adalah suatu peristiwa yang luar biasa. Hanya sedikit santri yang bisa membaca gelagat ini.
Pak Laode termasuk guru yang berkomitmen, teguh memegang amanah, tapi agak sedikit kaku. Untuk urusan ujian administrasi yang merupakan mata pelajaran pegangan beliau, jawaban ujian harus sama persis yang ada di buku. Mulai huruf besar, huruf kecil, titik koma jika tidak sama persis dengan buku, maka jawaban kami akan disalahkan. Dalam memberikan soal juga terkadang kurang kreatif, misalnya ada pertanyaan begini; Hal yang membahas “Surat Menyurat” terdapat dalam bab berapa dan halaman berapa? Maka tak jarang santri-santri yang putus asa menjawabnya dalam bahasa India dan amat kondang di jaman sekarang “MENEKETEHE?”
Malam ini pak Laode terselip dalam jemaah shalat isya di shaf paling belakang. Itu artinya bayangan kerja lembur menstensil soal-soal untuk ujian keesokan harinya akan ia lakoni malam ini. Tiga orang santri kelas III yang duduk di shaf depannya sedang berbisik-bisik satu sama lain. Sebuah rencana brillian akan mereka lakukan malam nanti.
Dalam bersikap, pak Laode termasuk salah seorang guru yang teguh namun sembrononya minta ampun. Kesembronoannya ini lah yang dimanfaatkan santri-santri tertentu.
Jam 10 malam di saat santri-santri lainnya sudah mulai istirahat, 3 orang santri kelas III sedang mengendap-endap di belakang aula utama. Dengan kelihaiannya mereka memanjat pagar pembatas dan memasuki pekarangan percetakan yang diberi penerangan secukupnya. Dua orang mengendap-endap mendekati pintu percetakan. Sementara satu lainnya berjaga-jaga dekat pagar. Keduanya mengintip dari kaca jendela dan menemukan pak Laode di dalamnya sedang sibuk menstensil soal-soal ujian.
Perhatian utama keduanya adalah tempat sampah pembuangan kertas-kertas bekas cetakan yang reject. Biasanya pak Laode membuangnya secara sembrono dan meletakkannya di depan pintu masuk. Sampah-sampah itu biasanya akan dijemput pak Idris besok subuh untuk dimusnahkan. Rencananya, sebelum kertas-kertas reject itu berpindah ke tangan pak Idris, anak-anak kelas III panjang akal ini akan merebutnya terlebih dahulu dan membawanya ke asrama untuk disensor. Kalau lagi beruntung, beberapa lembar kertas soal yang masih utuh dan jelas terbaca akan menjadi milik mereka.
Malam semakin larut. Namun pak Laode tak kunjung mengeluarkan tempat sampah bermakna itu. Ketiga nya dengan penuh kesabaran menanti saat-saat menentukan itu. Gigitan nyamuk sudah tak dihiraukan lagi, sementara piket malam mondar-mandir menenteng senter sebesar lampu mobil.
Jika musim ujian tiba, biasanya kegiatan extrakurikuler kampus dikurangi sedikit-sedikit. Pengadilan qismul amni atau mahkamah bahasa yang biasanya bisa berlangsung hingga pukul 00:00 maka waktunya dibatasi hingga pukul 10 malam saja. Kegiatan khitabah atau muhadarah ajang santri berkumpul untuk latihan berdiskusi atau berpidato ditiadakan. Kegiatan belajar mengajar bahasa yang biasanya berlangsung setelah santap malam diganti dengan belajar terpimpin di kelas yang dipandu ketua kelas masing-masing. Bahan pelajaran yang dipelajari adalah mata pelajaran yang akan diujikan keesokan harinya.
Tapi tidak untuk ke tiga santri yang sedang terperangkap di lingkungan percetakan pondok malam ini. Musim ujian bagi mereka adalah musim detektif-detektifan, musim memanfaatkan otak kiri, musim memanfaatkan kelihaian dan musim menjadi pemulung sampah.
Tahun lalu mereka berhasil mendapatkan 5 soal ujian masih utuh untuk 14 kali pengintaian dan mendapatkan nilai sempurna 10 di rapor masing-masing untuk ke 5 mata ujian tersebut. Untuk tahun ini prestasi mereka minimal harus lebih baik dari tahun lalu. Paling tidak mereka harus merebut 6 ke atas soal ujian buangan pak Laode untuk 14 kali pengintaian. Lagi pula tahun ini adalah sangat menentukan bagi mereka apakah bisa melanjutkan bangku SMA atau Aliyah dengan nilai yang memuaskan. Wallahu a’lam. Semuanya tergantung kesembronoan pak Laode.
Pukul 00:00 malam. Waktu makin sempit. Mereka mulai menebak-nebak tabiat pak Laode, apakah malam ini ia akan keluar dan meletakkan tempat sampah itu di dekat pintu atau membiarkan tempat sampah itu terus berada di tempatnya hingga azan subuh nanti.
“Sepertinya tidak ada tanda-tanda pak Laode mengeluarkan tempat sampah itu. Sebaiknya kita pulang dan belajar saja.” Andri mulai putus asa. Badannya mulai bengkak-bengkak dimangsa nyamuk.
“Ssst.. sabar sebentar. Orang sabar disayang Tuhan. Tempat sampah itu sedikit lagi penuh. Kalau sudah penuh, saya yakin dia akan menggiringnya keluar.” Kata Fadli masih bersemangat. Suatu ciri-ciri maling sejati. Sabar dan penuh perhitungan.
“Tapi kita sudah hampir dua jam di tempat ini. Dan tanda-tanda itu belum kelihatan juga.”
“Kita tunggu sampai jam 1.” Fadli mulai memasang target. Suatu rencana yang tidak sembarangan. Karena jika jam 1 malam mereka tidak mendapatkan apa-apa dari sampah-sampah soal reject itu, mereka masih memiliki 3 jam waktu hingga pukul 4 subuh untuk membuat pelampung supaya tidak tenggelam di ujian keesokan harinya.
Tiga serangkai. Ini bukan nama penerbit, bukan nama perusahaan kontraktor, bukan pula merek kacang sangrai yang biasa dijual di koperasi santri. Mereka adalah Andri, Fadli dan Erwin. Mereka adalah santri kelas III yang memiliki pemikiran-pemikiran sederhana dan cenderung memintas. Tanpa bersusah-susah selayaknya santri lainnya mereka memiliki daya jelajah luar biasa.
Dari sekian banyak periode yang sudah ditelorkan pondok ini, tak seorang pun dari pendahulu-pendahulu mereka yang mengetahui cara cepat menemukan soal ujian yang utuh jelas dan gamblang sampai ketiga santri ini masuk dan terdaftar menjadi santri. Awalnya sih sederhana saja. Tahun lalu ketika mereka mempertanyakan kenapa pak Laode sampai menginap di pondok sepanjang musim ujian. Setelah selidik sana selidik sini, ternyata pak Laode merangkap pula menjadi tukang cetak alias tukang stensil soal-soal ujian. Analisa mereka berlanjut bahwa alat stensil yang reot dan tua tidak mungkin mmproduksi hasil cetakan yang 100 % sempurna. Paling tidak ada 5% hasil cetakan yang salah cetak, buram atau kelebihan tinta. Nah yang menjadi sasaran ketiganya adalah yang 5% itu. Dimanakah pak Laode membuangnya?
Observasi awal mereka bahwa di dalam ruangan percetakan ada semacam mesin penghancur yang bisa menghancurkan sampah-sampah kertas menjadi remah-remah, menjadi bubur, menjadi serpihan-serpihan rambut dibelah tujuh belas. Namun ternyata pemikiran pak Laode tidak se-antisifatif itu. Atau pondok belum sanggup membeli mesin penghancur kertas. Selanjutnya mereka berfikiran kertas-kertas soal reject itu akan dikumpulkan, diikat menggunakan tali rafia lalu dimasukkan ke dalam locker yang tidak bisa diakses sama sekali selain pak Laode sendiri. Namun fikiran itu terbantahkan dengan sendirinya karena mereka tidak menemukan locker sebuahpun setelah mengintip ke dalam ruangan percetakan di suatu siang yang sepi.
Dan Aha…. Sederhana saja. Rupanya sampah soal yang sangat berarti itu dibuang begitu saja seperti membuang ingus, membuang bungkus biscuit, membuang puntung rokok ke dalam tempat sampah biasa, sangat biasa yang ada di ruangan stensilan itu. Careless (Sembrono, lalai). Sama dengan hafalan adjective (kata sifat) yang suruh dihafalkan oleh ustaz Amran Mahmud di buku your basic vocabulary cetakan pertama dan seterusnya karya ustaz Azhar.
Ketiga serangkai saling tatap. Seringai kemenangan tersungging dari hidung-hidung mereka. Ini akan menghantarkannya menjadi juara kelas sepanjang masa. Sepanjang pak Laode tidak menyadari kebiasaan ‘manisnya’, sepanjang mereka tidak kepergok piket malam, sepanjang marginal error 5% produk alat stensil itu berlaku.
Dan malam ini acara prosesi perebutan sampah itu berlanjut. Hanya kesabaran yang bisa membuat mereka menjadi juara kelas. Pak Laode masih asyik bersiul-siul memperhatikan hasil cetakan soal itu satu demi satu. Entah kenapa malam itu ia tidak melakukan kesalahan selanjutnya, padahal sekitar puluhan lembar lagi tempat sampah plastik itu akan penuh dan meminta disingkirkan supaya tidak merusak pemandangan. Tapi malam ini tidak seperti biasanya. Hasil cetakannya selalu sempurna.
Pukul 1 malam. Target pengintaian berakhir. Namun ketiga serangkai itu tak urung meninggalkan tempatnya. Kesabaran membuahkan rasa kantuk tak tertahankan, dan mereka tertidur di pekarangan percetakan sampai azan subuh memanggil, sampai pak Idris datang menjemput sampah-sampah soal itu. Ketiganya tebangun dan berlari menuju sumur untuk mengambil air wudhu. Pupus sudah harapan mengerjakan soal ujian dengan sempurna hari ini. Namun seperti pepatah “esok kan masih ada” meraka masih tersenyum sembari membayangkan aksi mereka besok malam tidak sesial malam ini.
Tiga serangkai mengerjakan soal seadanya. Untuk hari ini mereka tidak membawa pelampung karena tidak sempat mengerjakannya. Tapi untung saja perahu tidak oleng, jadi mereka tidak perlu berenang melompat dari perahu. Soal-soal ujian PMP dan bahasa Indonesia yang senantiasa menjadi pembuka ujian di hari pertama masih bisa diatasi dengan baik. Untuk hari ke II pelajaran IPA dan Matematika tidak ada kata lain selain harus berhasil merebut sampah-sampah soal itu.
Malam kedua, jam 10 malam tepat. Tiga orang santri sudah bertengger di atas pagar percetekan. Dan Hup! Mereka melompat laksana kucing. Tidak meninggalkan suara sama sekali. Dan kali ini nasib mereka jauh lebih indah dari malam sebelumnya. Mereka tidak perlu menunggu lama sampah soal-soal itu digiring keluar dekat pintu percetakan. Mata ketiga serangkai itu laksana kucing mendapatkan ikan ditinggal tuannya. Bersinar-sinar berkejap-kejap. Lidahnya terjulur, jakunnya naik turun. Ketiganya saling menatap. Tidak perlu bersusah-susah. Makanan sudah disiapkan.
Erwin memberi isyarat supaya Fadli segera mengintip ke jendela. Dan dengan berjingkrat-jingkrat Fadli mendekati jendela, nampak olehnya di dalam ruangan pak Laode sedang serius memperhatikan soal yang hendak dicetaknya. Fadli memberi isyarat kepada Erwin dengan membentukkan huruf “O” dari jari telunjuk dan jempolnya. Oke maksudnya. Erwin segera memberi isyarat supaya Andri melompati pagar dan keluar dari pekarangan percetakan. Hup! Nyaris tanpa suara. Erwin melangkah pelan menghampiri tempat sampah yang ada di dekat pintu masuk percetakan. Tangkas saja dia mengeluarkan seluruh isinya dan mengikatnya dengan tali raffia yang dikeluarkan dari saku kantong celananya. Setelah lembaran-lembaran itu kuat terikat dia berlari pelan ke arah pagar dan melemparkannya kepada Andri yang sudah menunggu di luar pagar. Selesai. Fadli sang pengintai sekali lagi mengintip ke dalam jendela. Aman. Pak Laode masih asyik dengan soal-soalnya. Erwin segera berlari melompati pagar diikuti Erwin. Ketiganya pun melakukan toast dan berjalan santai menuju asrama.
“Kegagalan kemarin malam lunas sudah.” Erwin tersungut-sungut seraya menepuk-nepuk bahu kedua koleganya.
Fadli menyeringai, “Sebaiknya kita sensor dulu.”
Kegiatan sensor menyensor biasanya dilakukan oleh Fadli supaya tidak mencurigakan. Setelah Fadli menemukan soal-soal yang diinginkan, ia kemudian mendistribusikan soal itu kepada Andri dan Fadli yang selanjutnya bertugas mencari jawaban dari soal-soal tersebut. Setelah semua jawaban sudah ditemukan, hasil nya kemudian dibagikan ke tiap-tiap anak. Kerja sama yang rapi dan kompak.
Fadli membawa seikat kumpulan soal kertas sampah itu dengan ke dua tangannya, ia mengendap-endap memasuki kamar lalu melompat ke atas ranjangnya yang ada di tingkat dua. Ia memeriksa lembaran-lembaran itu seolah sedang membuka-buka catatan ujian yang akan diujikan keesokan harinya. Ia menarik lembar teratas, sebuah kertas yang berisi tumpahan tinta hitam, permukaan kertas itu tidak bisa terbaca. Ia menyingkirkannya. Lembar ke dua, separuh cetak lembaran soal untuk mata ujian PMP yang telah diujikan pagi tadi. Ia menyingkirkannya. Lembar ke tiga, sama dengan lembar kedua, ia menyingkirkannya lagi. Fadli mulai berkeringat walau hawa dingin dari jendela asrama meniup tubuhnya lembut. Lembar keempat, soal untuk santri kelas I walau utuh terbaca namun itu untuk mata pelajaran bahasa Indonesia yang juga telah diujikan tadi pagi. Keringat nya semakin deras menetes.
Jauh di ranjang paling ujung, dua orang teman serangkainya sudah tidak sabar menunggu. Beberapa tumpuk buku sudah disiapkan oleh keduanya sebagai literature pencarian jawaban soal yang susah payah disensor oleh Fadli. Santri-santri lainnya sedang khusyuk belajar, hening, yang terdengar sesekali hanya suara lembaran buku yang dibuka bolak balik.
Fadli menarik lembaran kesekian kalinya, dia masih saja belum menemukan lembaran yang dicarinya. Wah gawat kalau begini. Jangan-jangan ini masih sampah yang kemarin. Ia mulai was-was. Ia terus memeriksa lembaran-lembaran itu satu demi satu. Dan sampailah ia di kertas terakhir. Jantungnya berdebar, nafasnya turun naik, ini usaha paling sia-sia selama ia menjadi tukang sensor soal. Namun tiba-tiba, nafasnya terhenti, darahnya tidak mengalir, membeku, dan wajahnya pias, jari-jarinya yang sebelumnya lincah menarik dan menyingkirkan lembaran-lembaran itu kini lemas menopang kepalanya yang limbung, di kertas terakhir ia menemukan sebuah tulisan tercetak tebal dan mengundang, “PANGGIL KEDUA TEMANMU LAINNYA DAN SEGERA MENGHADAP AMRAN MAHMUD DI KANTOR PIMPINAN PONDOK” tertanda Laode Mangasa.